RELUNG.ID – Warga Sumatera Selatan diminta mulai mewaspadai dampak cuaca panas yang diperkirakan meningkat dalam sepekan ke depan. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprakirakan suhu udara maksimum di sejumlah wilayah Sumsel dapat mencapai 35 derajat Celsius seiring berkurangnya curah hujan dan masuknya musim kemarau.
Kondisi ini berpotensi meningkatkan risiko dehidrasi, kelelahan akibat panas, hingga gangguan kesehatan lainnya, terutama bagi masyarakat yang beraktivitas di luar ruangan pada siang hari.
Kepala Stasiun Meteorologi Sultan Mahmud Badaruddin II Palembang, Siswanto, mengatakan sebagian besar wilayah Sumsel saat ini mulai mengalami penurunan intensitas hujan.
“Situasi tersebut menyebabkan suhu udara pada siang hingga sore hari terasa lebih terik dibandingkan beberapa bulan sebelumnya, ” kata dia, Selasa (2/6/2026).
Menurut dia, suhu maksimum yang diperkirakan berada di kisaran 32 hingga 35 derajat Celsius merupakan suhu puncak harian yang terjadi pada jam-jam tertentu, bukan berlangsung sepanjang hari.
“Suhu maksimum umumnya terjadi pada periode siang hingga sore hari. Ini bukan berarti suhu udara akan terus berada di angka 35 derajat Celsius sepanjang hari,” katanya.
Siswanto menjelaskan suhu udara biasanya masih relatif sejuk pada pagi hari, kemudian meningkat secara bertahap hingga mencapai titik tertinggi pada siang atau sore hari sebelum kembali turun menjelang malam.
“Memasuki musim kemarau, masyarakat yang bekerja di sektor lapangan seperti petani, buruh konstruksi, pedagang kaki lima, hingga pengendara di jalan raya menjadi kelompok yang paling rentan terdampak paparan panas berlebih, ” kata dia.
Karena itu, BMKG mengimbau masyarakat untuk menjaga kondisi tubuh dengan memperbanyak konsumsi air putih serta mengurangi aktivitas berat saat cuaca sedang terik.
“Selain itu, penggunaan topi, payung, pakaian yang nyaman, dan pelindung diri lainnya juga disarankan bagi warga yang harus beraktivitas dalam waktu lama di luar ruangan, ” kata dia.
Di sisi lain, menurunnya curah hujan juga menjadi sinyal awal meningkatnya kewaspadaan terhadap potensi kekeringan dan kebakaran lahan di sejumlah daerah yang rawan pada musim kemarau.[THQ]

