RELUNG.ID- Malam yang semula berjalan normal mendadak berubah menjadi kepanikan di jalur rel kawasan Stasiun Bekasi Timur setelah terjadi tabrakan antara KA Argo Bromo Anggrek dan KRL Commuter Line.
Hingga kini, insiden tersebut tercatat menewaskan tujuh orang dan menyebabkan 81 lainnya mengalami luka-luka.
Direktur Utama PT Kereta Api Indonesia, Bobby Rasyidin, mengungkapkan proses evakuasi berlangsung hingga delapan jam. Lamanya waktu evakuasi disebabkan kondisi rangkaian kereta yang rusak parah serta adanya korban yang masih terjebak dalam keadaan hidup.
“Tim harus bekerja sangat hati-hati agar korban yang masih hidup tidak semakin terancam,” ujarnya.
Di tengah tragedi tersebut, sebagian besar penumpang berhasil selamat. Sekitar 240 penumpang KA Argo Bromo Anggrek dilaporkan tidak mengalami cedera serius.
Fokus penanganan kini beralih pada puluhan korban luka yang dirawat di sejumlah rumah sakit di wilayah Bekasi. Penanganan medis dilakukan secara terpadu untuk mempercepat proses pemulihan.
Proses evakuasi berjalan lama bukan tanpa alasan. Kondisi gerbong yang ringsek membuat akses menuju korban sangat terbatas.
Tim gabungan dari Basarnas, tenaga medis, serta petugas KAI harus membuka jalur evakuasi secara bertahap.
Dalam situasi tersebut, setiap langkah harus diperhitungkan. Kesalahan kecil berisiko memperburuk kondisi korban yang masih bertahan.
Dampak kecelakaan langsung terasa pada operasional perjalanan kereta. Untuk sementara, Stasiun Bekasi Timur tidak melayani aktivitas naik dan turun penumpang.
Perjalanan KRL dibatasi hanya sampai Stasiun Bekasi guna memberikan ruang bagi proses evakuasi dan pemulihan jalur rel.
PT KAI memastikan seluruh korban mendapatkan penanganan maksimal. Biaya pengobatan korban luka hingga pemakaman korban meninggal ditanggung penuh oleh perusahaan bersama pihak asuransi.
Selain itu, posko informasi juga dibuka untuk membantu keluarga korban memperoleh kepastian terkait kondisi anggota keluarganya.
Tragedi ini kembali menyoroti isu keselamatan transportasi massal, khususnya di jalur padat.
Lamanya proses evakuasi dan banyaknya korban menjadi pengingat bahwa sistem keselamatan perlu terus diperkuat, agar kejadian serupa tidak terulang di masa mendatang.[YKP]

