RELUNG.ID — Isak tangis dan rasa kecewa mendalam menyelimuti kepulangan sejumlah jemaah lansia asal Musi Rawas ke bumi Sriwijaya. Niat suci untuk bersujud di depan Kakbah harus berujung pahit setelah mereka diduga menjadi korban penipuan oleh biro perjalanan umrah Umi Travel di Lubuk Linggau.
Bukannya terbang menuju Jeddah, sekitar 20 jemaah justru ditelantarkan selama 15 hari di Jakarta tanpa kejelasan. Mirisnya, para korban merupakan warga yang harus banting tulang mengumpulkan rupiah demi rupiah dari hasil berladang sawit dan mencari kayu.
Dalam sebuah video viral yang diunggah akun Facebook Endi Semeteh, Senin (23/2/2026), salah satu korban mengungkapkan rasa sakit hatinya yang teramat dalam. Baginya, uang yang disetorkan ke pihak travel adalah hasil keringat selama bertahun-tahun sebagai buruh tani.
“Saya sangat sakit hati. Pergi umrah ini bukan karena saya orang mampu, tapi dari hasil berladang sawit dan mencari kayu. Kami nahan nafsu, nahan makan untuk mengumpulkan uang karena ingin ke tanah suci,” ungkap korban dengan nada bergetar.
Tragedi ini memuncak saat para jemaah sudah tiba di Jakarta. Alih-alih mendapatkan tiket keberangkatan, pihak travel justru meminta uang tambahan jika ingin melanjutkan perjalanan ke Arab Saudi. Karena keterbatasan biaya, para jemaah yang tidak mampu membayar lagi akhirnya terkatung-katung di ibu kota.
Modus yang dilakukan biro perjalanan ini terbilang rapi. Jemaah awalnya diberangkatkan dari Palembang dengan janji transit di Jakarta sebelum menuju Jeddah. Namun, setibanya di Jakarta, pihak pengelola travel dilaporkan menghilang dan tidak dapat dihubungi.
Dari 20-an orang yang terlantar, 12 jemaah yang memiliki dana cadangan akhirnya terpaksa menggunakan jasa travel lain agar bisa tetap berangkat ke tanah suci. Sementara sisanya, termasuk nenek dari pemilik akun Endi, terpaksa pulang dengan rasa trauma.
“Janji berangkat ke Jeddah, tapi cuma sampai Jakarta. Sampai di sana terlantar 15 hari. Kami sudah cek kantornya di Lubuk Linggau, ternyata sudah lama tutup,” jelas Endi.
Hingga kini, para korban yang kembali ke daerah asal masih dalam kondisi terguncang. Keluarga korban mengaku belum menempuh jalur hukum karena masih menunggu itikad baik, meski harapan itu kian tipis mengingat kantor biro tersebut telah kosong.
“Saya tidak rida dunia akhirat diperlakukan seperti ini,” pungkas dia. [THQ]

