RELUNG.ID – Tradisi Mandi Kasai merupakan ritual turun-temurun yang dilakukan oleh pengantin baru di Lubuklinggau.
Pasangan pengantin dimandikan di sungai oleh sanak keluarga serta ketua adat sebagai simbolik melepas masa lajang mereka. Namun, tradisi unik ini kini jarang dijumpai dan hampir punah.
Prosesi dimulai dengan mengarak pasangan pengantin menggunakan tandu berbentuk angsa bernama Joli Jempano. Arak-arakan tersebut diiringi oleh musik gong atau rebana serta sorak-sorakan dari sanak keluarga dan teman-teman pengantin.
Sesekali, tandu tersebut akan diputar beberapa kali sebelum akhirnya sampai di Sungai Kelingi.
Tokoh adat Lubuklinggau, Asman, menjelaskan bahwa adat mandi kasai dilakukan setelah pasangan pengantin menyelesaikan acara akad dan resepsi pernikahan.
“Mandi kasai ini adalah mandi pengantin yang dilaksanakan usai acara pernikahan. Maknanya adalah melepas masa lajang dan memulai kehidupan baru sebagai pasangan suami-istri,” ujar Asman, Ahad (14/7/2024).
Tradisi mandi kasai ini telah dilaksanakan sejak zaman penjajahan Belanda dan masih dilestarikan oleh keluarga tertentu di Lubuklinggau.
“Khususnya keluarga Pak Samsuhar yang merupakan keturunan asli daerah Lubuklinggau, mereka selalu melaksanakan adat ini setiap ada yang menikah,” tambahnya.
Sayangnya, adat mandi kasai semakin jarang dilaksanakan karena biaya yang mahal dan terbatasnya orang yang bisa memimpin prosesi ini, seperti pelara (dukun).
“Pelara sudah sangat jarang ada di kota Lubuklinggau, sehingga adat ini semakin sulit untuk dilaksanakan,” jelas Asman.
Asman berharap generasi muda di Lubuklinggau dapat melestarikan tradisi mandi kasai agar tidak punah.
“Harapannya, tradisi ini diketahui oleh generasi muda dan bisa diwariskan agar mandi kasai tetap ada dan bisa dilestarikan oleh generasi berikutnya,” harapnya. [AYK]

