RELUNG.ID – Konsep Internet of Things (IoT) tak lagi sebatas teori bagi siswa SMKN 8 Bandar Lampung.
Melalui kegiatan pengabdian masyarakat, Tim Laboratorium Komputer 2026 Universitas Lampung (Unila) mengajak para siswa mempraktikkan langsung teknologi Smart Lamp atau lampu pintar berbasis Blynk, Kamis (17/9/2026).
Ketua Tim Pengabdian Laboratorium Komputer 2026 Unila, Rio Ariestia Pradipta, S.Kom., MTI mengatakan, dipilihnya proyek lampu pintar ini karena titik awal dan relatif sederhana.
Namun, memiliki sejumlah konsep teknologi di dalamnya mulai dari mobile computing, jaringan komputer, mikrokontroler, komunikasi data hingga kendali perangkat elektroni.
“Dalam proyek sederhana ini maka siswa diperkenalkan cara berpikir dalam membangun sebuah solusi teknologi, mulai dari mengidentifikasi kebutuhan, memilih komponen, menghubungkan perangkat hingga melakukan pengujian,” katanya dikutip dari keterangan resminya, Senin (5/10/2026).
Pada demonstrasinya, smartphone digunakan sebagai perangkat untuk memberikan perintah. Kemudian, perintah tersebut diteruskan melalui aplikasi Blynk dan jaringan Wi-Fi menuju mikrokontroler yang terhubung dengan relay dan lampu.
Secara sederhana, sistem tersebut bekerja melalui alur smartphone → Blynk → internet/Wi-Fi → mikrokontroler → relay → lampu.
“Kami juga memperkenalkan komponen yang digunakan beserta fungsinya masing-masing dalam membangun sistem IoT ini,” jelasnya,
Dengan praktik ini, siswa dapat melihat secara langsung bagaimana perintah dari aplikasi Blynk diterima oleh mikrokontroler. Ketika tombol pada smartphone ditekan, mikrokontroler kemudian meneruskan perintah kepada relay untuk mengubah kondisi lampu.
Pengalaman tersebut menjadi bagian menarik bagi peserta karena mereka dapat melihat secara langsung hubungan antara perangkat digital dan perangkat fisik.
Jika pada sistem konvensional lampu dikendalikan menggunakan sakelar, melalui konsep IoT siswa diperkenalkan pada metode pengendalian menggunakan perangkat digital yang terhubung ke jaringan.
“Tim pengabdian juga menunjukkan bahwa konsep tersebut tidak berhenti pada pengendalian lampu. Sistem sederhana seperti Smart Lamp dapat dikembangkan menjadi berbagai aplikasi lain, seperti smart home, sistem monitoring, otomasi perangkat hingga sistem keamanan berbasis sensor,” jelasnya.
Peserta juga didorong untuk melihat kemungkinan pengembangan proyek dengan menambahkan berbagai sensor. Misalnya, lampu dapat dibuat menyala secara otomatis menggunakan sensor cahaya, sementara sistem lain dapat dikembangkan untuk memantau suhu, kelembapan maupun mendeteksi gerakan.
Dengan melihat secara langsung bagaimana smartphone, jaringan, mikrokontroler, relay dan lampu saling terhubung, siswa tidak hanya memperoleh pengetahuan mengenai hasil akhir sebuah sistem, tetapi juga memahami proses komunikasi yang berlangsung di dalamnya.
Kegiatan tersebut sekaligus menjadi ruang kolaborasi antara perguruan tinggi dan sekolah. Pengetahuan yang dikembangkan di lingkungan akademik diperkenalkan kepada siswa melalui proyek yang sederhana dan dekat dengan kehidupan sehari-hari.
“Kegiatan ini diharapkan dapat menumbuhkan ketertarikan siswa untuk mempelajari dan mengembangkan teknologi IoT lebih jauh,” katanya
Tim Pengabdian Laboratorium Komputer 2026 Unila berharap pengalaman tersebut dapat menjadi langkah awal bagi siswa SMKN 8 Bandar Lampung untuk mengeksplorasi berbagai proyek IoT dan melahirkan inovasi digital yang lebih kreatif. (ril)

