RELUNG.ID – Pendiri sekaligus CEO Telegram, Pavel Durov telah menjalani pemeriksaan selama 96 jam dan telah ditahan oleh Pengadilan Prancis
Tak hanya itu, Pavel juga bakal menghadapi 12 tuntutan diduga keterlibatannya dalam memfasilitasi transaksi daring ilegal hingga penyediaan layanan kripto yang tidak sah.
Sejumlah tuntutan lainnya juga mengancam CEO Telegram ini mulai dari dugaan distribusi pornografi anak, pelanggaran terkait narkoba, penipuan terorganisasi, dan pencucian
Selain itu, Durov dituduh menolak bekerja sama dengan pihak berwenang atas permintaan penyadapan yang sah dan keterlibatan dalam distribusi alat kejahatan dunia maya.
Hal ini diungkapkan Jaksa Penuntut Umum Paris, Laure Beccuau dikutip dari AFP, Selasa (27/8).
Dia mengatakan, jika penyelidikan yudisial ini dimulai pada 8 Juli lalu yang dilakukan bersama Pusat Pemberantasan Kejahatan Dunia Maya (C3N) dan Kantor Nasional Anti Penipuan (ONAF).
Dari hasil penyelidikan tersebut, kemudian masa penahanan Durov diperpanjang dan berpotensi berlangsung hingga 96 jam hingga Rabu (28/8).
“Penahanan yang diperpanjang ini, yang diizinkan karena sifat kejahatan terorganisasi dari beberapa tuduhan, memberi penyelidik waktu tambahan untuk melakukan interogasi dan pengumpulan bukti,” katanya.
Penangkapan Durov ini berdasarkan surat dari OFMIN Prancis sebuah kantor yang bertugas mencegah kekerasan terhadap anak di bawah umur.
Dimana, penangkapan ini dalam rangka penyelidikan awal atas dugaan pelanggaran termasuk penipuan, perdagangan narkoba, perundungan siber, kejahatan terorganisasi, dan promosi terorisme yang berkaitan dengan platform telegram.
Penangkapan Durov ini dilakukan di Bandara sesaat tiba dia tiba di Bandara Le Bourget, Sabtu malam dari Baku, Azerbaijan, dan berencana untuk makan malam di ibu kota Paris. Dia ditemani seorang pengawal dan asisten pribadi yang selalu menemaninya.
Terkait penangkapan tersebut, tim Telegram mengecam tindakan yang tidak masuk akal ini. “Tidak masuk akal untuk mengklaim bahwa platform atau pemiliknya bertanggung jawab atas penyalahgunaan platform tersebut,” tulisnya dalam pernyataan tim Telegram.
Untuk diketahui, Durov mendirikan Telegram pada tahun 2013 lalu setelah proyek pertamanya, jejaring sosial Rusia VKontakte (VK) mengalami kesulitan kepemilikian yang dia salahkan pada Kremlin.
Telegram menjadi sangat populer sebagian karena kemudahan menonton dan mengunggah video di saluran perpesanannya.
Namun, para kritikus menuduhnya sering kali menjadi tuan rumah konten ilegal mulai dari citra seksual yang ekstrem, disinformasi, dan juga layanan untuk membeli narkoba. (AAL)

