RELUNG.ID- Provinsi Sumatera Selatan mencatatkan deflasi sebesar 0,35% (mtm) pada Mei 2025. Capaian ini berbalik arah dari kondisi bulan sebelumnya yang mengalami inflasi sebesar 1,39% (mtm), seiring dengan meredanya tekanan permintaan pasca periode Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) Ramadhan dan Idulfitri.
Plt. Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sumsel, Iman Gunadi, menjelaskan bahwa deflasi pada Mei dipengaruhi oleh penurunan harga berbagai komoditas utama yang sebelumnya melonjak akibat lonjakan konsumsi selama HBKN.
“Deflasi ini merupakan dampak dari normalisasi permintaan masyarakat setelah Ramadhan dan Idulfitri, yang menyebabkan harga-harga mulai kembali stabil,” kata Iman, Selasa (3/6/2025).
Beberapa komoditas penyumbang deflasi terbesar di antaranya cabai merah sebesar 0,22%, bawang merah 0,14%, bawang putih 0,08%, emas perhiasan 0,08%, dan cabai rawit 0,06% (mtm).
Turunnya harga cabai dan bawang didukung oleh musim panen di sejumlah sentra produksi nasional, didukung kondisi cuaca yang kondusif serta distribusi yang lebih lancar. Sementara itu, harga bawang putih terkoreksi seiring meningkatnya volume impor dan menguatnya nilai tukar rupiah. Penurunan harga emas perhiasan turut dipicu melemahnya permintaan pasca-Lebaran dan penurunan harga emas global.
Secara tahunan (yoy), inflasi Sumsel juga melambat menjadi 2,33%, lebih rendah dari bulan sebelumnya yang tercatat sebesar 2,74%. Meski turun, angka ini masih berada dalam kisaran target inflasi nasional sebesar 2,5±1%.
Iman menyebut bahwa terkendalinya inflasi tidak terlepas dari peran aktif Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) yang mengimplementasikan berbagai strategi pengendalian harga melalui pendekatan 4K, yaitu keterjangkauan harga, ketersediaan pasokan, kelancaran distribusi, dan komunikasi efektif.
Beberapa upaya nyata TPID antara lain penyelenggaraan pasar murah di berbagai daerah, program budidaya komoditas hortikultura melalui Gerakan Sumsel Mandiri Pangan (GSMP Menyala), serta pemberian subsidi biaya distribusi komoditas oleh Bank Indonesia dan mitra strategis lainnya.
Bank Indonesia Provinsi Sumsel menyatakan akan terus memperkuat kolaborasi dengan pemerintah daerah melalui program strategis seperti Gerakan Nasional Pengendalian Inflasi Pangan (GNPIP) dan penguatan ketahanan pangan daerah.
“Dengan sinergi yang kuat, kami optimistis inflasi akan tetap terkendali, daya beli masyarakat terjaga, dan ekonomi Sumatera Selatan tumbuh secara berkelanjutan,” pungkas Iman.[CKM]

