RELUNG.ID- Wakil Ketua DPRD Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir (PALI) mendesak pemerintah pusat dan Badan Gizi Nasional untuk segera melakukan evaluasi menyeluruh terhadap program prioritas nasional Makan Bergizi Gratis (MBG) yang menjadi andalan Presiden terpilih Prabowo Subianto.
Politisi Partai Demokrat ini menilai, meskipun program MBG memiliki tujuan mulia, namun perencanaan dan pelaksanaannya harus dilakukan secara matang agar tidak menimbulkan persoalan di lapangan.
“Menurut saya, program prioritas tersebut seharusnya dipersiapkan sebaik mungkin agar tidak menimbulkan kejadian-kejadian seperti ini. Harus ada kajian yang mendalam supaya tidak merugikan masyarakat, apalagi sampai mengancam keselamatan generasi penerus,” ujarnya, Senin, (5/5/2025).
Ia juga menyoroti pentingnya peran Badan Gizi Nasional dalam menyusun instrumen teknis pelaksanaan program ini, terutama dalam penyediaan dapur dan bahan makanan.
“Peran Badan Gizi Nasional sangat krusial karena mereka bertanggung jawab menyiapkan instrumen dapur. Badan ini harus memiliki Standar Operasional Prosedur (SOP) yang komprehensif, mulai dari pemilihan bahan pangan yang aman dan bergizi, proses pengolahan makanan yang higienis, hingga sistem distribusi yang tepat sasaran dan efisien,” imbuhnya.
Ia mengingatkan agar niat baik dari program ini tidak tercoreng akibat lemahnya pengawasan dan kurangnya kesiapan teknis di lapangan.
“Jangan sampai niat baik untuk memenuhi gizi anak-anak justru membawa penyakit dan membahayakan masa depan mereka. Ini menyangkut nyawa anak-anak bangsa,” tegasnya.
Ia pun berharap pemerintah pusat terbuka terhadap masukan dari berbagai pihak, terutama dari daerah, demi keberhasilan dan keberlanjutan program strategis tersebut.
Diberitakan sebelumnya, jumlah siswa SD di PALI yang tercatat mengalami keracunan sebanyak 64 orang. Namun, saat ini telah bertambah menjadi 87 orang.
Hal itu disampaikan langsung oleh Wakil Bupati PALI Wan Tuaji kepada wartawan, usai memantau para siswa yang dirawat di RSUD Anwar Mahakil, Senin(5/5/2025).
“Jumlah siswa yang terdampak mencapai 87 orang. Namun, kami masih menunggu hasil uji laboratorium untuk mengetahui penyebab pastinya,” ujar Iwan Tuaji.[KJR]

