RELUNG.ID– Video yang memperlihatkan sejumlah calon pegawai BPJS Ketenagakerjaan menjalani pelatihan berjalan tanpa alas kaki di atas bara api (fire walk) viral di media sosial. Kegiatan tersebut menuai sorotan publik hingga mendapat perhatian Komisi IX DPR RI yang meminta evaluasi terhadap metode pelatihan tersebut.
Dalam video yang beredar, para peserta mengenakan seragam hijau, celana hitam, topi, serta tanda pengenal. Sebelum melintasi bara api, mereka meneriakkan yel-yel penyemangat. Setelah berhasil melewati lintasan, kaki para peserta langsung dicelupkan ke ember berisi air.
Wakil Ketua Komisi IX DPR RI Charles Honoris mempertanyakan relevansi pelatihan tersebut dengan tugas dan fungsi calon pegawai BPJS Ketenagakerjaan.
Menurutnya, pelatihan bagi pegawai lembaga publik semestinya difokuskan pada peningkatan kompetensi yang berkaitan langsung dengan pelayanan kepada masyarakat, bukan metode yang berpotensi menimbulkan risiko keselamatan.
Charles meminta BPJS Ketenagakerjaan memberikan penjelasan secara terbuka mengenai tujuan pelaksanaan fire walk. Ia juga mengingatkan agar setiap bentuk pelatihan yang mengandung risiko tinggi memiliki dasar yang jelas, mengutamakan aspek keselamatan peserta, serta dapat dipertanggungjawabkan kepada publik.
Sorotan terhadap kegiatan tersebut sebelumnya juga disampaikan Koordinator Advokasi BPJS Watch, Timboel Siregar. Ia menilai metode berjalan di atas bara api tidak memiliki keterkaitan langsung dengan tugas dan fungsi pegawai BPJS Ketenagakerjaan.
Menurut Timboel, pembentukan karakter, integritas, dan profesionalisme pegawai dapat dilakukan melalui berbagai metode lain yang lebih relevan tanpa harus menggunakan aktivitas ekstrem yang berpotensi membahayakan peserta.
Ia juga meminta manajemen BPJS Ketenagakerjaan menjelaskan secara transparan konsep pelatihan, dasar pelaksanaannya, besaran anggaran yang digunakan, hingga indikator keberhasilan kegiatan tersebut. Sebagai lembaga pengelola dana amanah pekerja, penggunaan anggaran dinilai harus dilakukan secara efektif, efisien, dan akuntabel.
Menanggapi polemik yang berkembang, BPJS Ketenagakerjaan memberikan klarifikasi bahwa kegiatan fire walk merupakan bagian dari program orientasi calon pegawai.
Menurut BPJS Ketenagakerjaan, pelatihan tersebut bertujuan membangun mental, kepercayaan diri, keberanian, serta memperkuat kerja sama tim sebagai bekal dalam menjalankan tugas sebagai pelayan publik.
Pihak BPJS Ketenagakerjaan juga menegaskan kegiatan tersebut dilaksanakan di bawah pendampingan instruktur profesional serta mengikuti prosedur keselamatan yang telah ditetapkan.
Meski demikian, video tersebut masih memicu perdebatan di media sosial. Sebagian masyarakat menilai metode fire walk tidak memiliki hubungan langsung dengan kompetensi yang dibutuhkan pegawai BPJS Ketenagakerjaan. Sementara itu, sebagian lainnya berpendapat kegiatan tersebut merupakan bagian dari pelatihan motivasi untuk membangun mental dan rasa percaya diri peserta.
Dengan adanya sorotan dari Komisi IX DPR RI dan berbagai pihak, BPJS Ketenagakerjaan diharapkan dapat memberikan penjelasan yang lebih komprehensif sekaligus mengevaluasi metode pelatihan yang digunakan agar tetap mengedepankan profesionalisme, keselamatan peserta, serta akuntabilitas penggunaan anggaran lembaga.

