RELUNG.ID — Kasus demam berdarah dengue (DBD) masih mengancam Sumatra Selatan (Sumsel) di tengah musim penghujan yang diprediksi berlangsung hingga akhir 2024. Antisipasi risiko penderita DBB makin meningkat, dinas kesehatan (dinkes) rutin mendistribusi larvasida ke sejumlah daerah kabupaten/kota.
“Kami mengantisipasi lonjakan kasus DBD dengan menyalurkan larvasida ke kabupaten dan kota yang paling tinggi penyebaran (kasus DBD),” ujar Kepala Dinkes Sumsel Trismarwan, Kamis (21/11/2024)
Dinkes Sumsel mencatat hingga Oktober 2024 dari bulan Januari, sudah ada 36 orang meninggal karena DBD dengan kasus tertinggi penyebaran terjadi di Palembang, Banyuasin dan Musi Banyusin (Muba).
“Kasus tertinggi itu terjadi di Palembang, ada 14 orang yang meninggal dunia,” imbuh dia.
Trismarwan menerangkan, penyaluran larvasida atau abate dilakukan untuk menekan kasus DBD yang mengancam masyarakat Sumsel. Cara penggunaan larvasida dengan cara penaburan di kolam, bak mandi, atau tempat yang berpotensi nyamuk aedes aegypti berkembang.
“Masyarakat juga bisa melakukan 3M+, mengubur, membuang dan menutup, serta membersihkan tempat yang menjadi sarang nyamuk, serta melakukan pembersihan lingkungan, terutama di rumah sendiri untuk menerapkan hidup bersih dan sehat,” jelasnya.
Dinkes Sumsel kata dia, juga meminta masyarakat untuk mengaktifkan juru jentik nyamuk (jumantik) di pemukiman warga, untuk melindungi masyarakat setempat hingga ketersediaan tim jumantik ke sekolah-sekolah, supaya kasus DBD tak menyebar.
“Jumantik ini untuk melihat jentik nyamuk, kalau ada genangan diberikan obat sehingga nyamuk/jentik itu akan mati,” timpalnya.[AYK]

