RELUNG.ID – Rencana Pemerintah Kota (Pemkot) untuk melakukan perpindahan lokasi lomba perahu bidar kini disorot pegiat sejarah di Kota Palembang.
Salah satunya dari Sejarawan dari Universitas Sriwijaya (Unsri), Dr Dedi Irwanto, MA.
Pasalnya, rencana pemindahan lokasi lomba perahu bidar dari Sungai Musi ini bertentangan dengan tradisi yang telah berlangsung puluhan tahun di Bumi Sriwijaya.
Dedi Irwanto mengatakan, sejak masa kolonial Belanda hingga setelah Indonesia merdeka, lomba bidar selalu digelar di Sungai Musi dan menjadi bagian penting dari sejarah serta identitas budaya Kota Palembang.
Menurutnya setiap tahun, sejak masa kolonial Belanda, bidar diselenggarakan di sungai Musi. Dulu startnya di muara sungai Kedukan, 35 Ilir. Finishnya di pelabuhan boom marrie, 7 Ulu.
“Selain tujuannya untuk pesta rakyat, dalam memperingati HUT Ratu Wilhelmina masa kolonial atau HUT Kemerdekaan di masa pascakolonial sekarang. Lomba bidar menjadi simbol kebesaran kota dalam menjaga sejarah budaya. Serta untuk mendatangkan wisatawan agar menanamkan modal di Kota Palembang,”katanya, Selasa (4/8/026).
Kini menurut Dedi, semuanya dibuat miris. Seolah ada pengerdilan lomba bidar. Tahun lalu sempat viral pembagian hadiah pemenangnya yang berlarut-larut. Sedangkan, tahun ini dihadapkan dengan minimnya anggaran.
Menurutnya, ada ego sektoral di OPD pemkot. Mestinya lomba bidar itu tidak saja dibebankan ke Dinas Pariwisata, tapi harus ada anggaran juga oleh Dinas Kebudayaan, Dinas Perhubungan, dll yang terkait penyelenggaraan bidar.
“Dulu lomba bidar ini mendatangkan magnet dari berbagai perusahaan besar di kota Palembang untuk menjadi sponsor,”katanya.
Kalau begini terus menurutnya , terjadi pengerdilan lomba bidar ini. Hal harus ini menjadi perhatian untuk pemimpin kota saat ini.
“Lombanya tetap di atas sungai Musi. Bila perlu cari sponsorship kakap agar lomba bidar menciptakan iklim kebahagiaan masyarakat kota Palembang,”katanya.
Sebelumnya, Kepala Dinas Pariwisata Kota Palembang M Irman mengakui penyelenggaraan Festival Bidar Tradisional tahun ini menghadapi berbagai kendala, mulai dari keterbatasan anggaran, revitalisasi kawasan Benteng Kuto Besak, hingga kurangnya koordinasi dengan para pegiat budaya.
“Saya mengakui ini menjadi kesalahan kami karena tidak berkoordinasi lebih awal dengan para budayawan. Seharusnya kendala-kendala yang ada bisa didiskusikan sejak awal agar dapat dicarikan solusi bersama,” katanya.
Irman menjelaskan, Festival Bidar merupakan salah satu agenda budaya terpenting di Palembang karena memiliki nilai sejarah sejak masa Sriwijaya hingga kolonial Belanda. Atas dasar itu, pihaknya mengusulkan Festival Bidar kembali masuk dalam Karisma Event Nusantara (KEN) Kementerian Pariwisata RI.
“Alhamdulillah Festival Bidar kembali lolos KEN. Di Sumatera Selatan hanya ada dua event yang masuk tahun ini, yakni Festival Sriwijaya dan Festival Bidar Tradisional. Ini menjadi kebanggaan sekaligus tanggung jawab bagi kami,” ujarnya.
Namun, pelaksanaan tahun ini dihadapkan pada kondisi keuangan daerah yang terbatas. Di sisi lain, kawasan Benteng Kuto Besak tidak memungkinkan digunakan karena masih dalam tahap revitalisasi.
“Awalnya kami berharap sebagian kawasan BKB masih bisa dipakai. Namun karena BKB sedang dilakukan revitalisasi dan setelah ditinjau masih ada alat berat dan pekerjaan konstruksi yang berisiko terhadap keselamatan pengunjung maupun peralatan penyelenggaraan,” jelasnya.
Karena itu, Dinas Pariwisata menurutnya mulai meninjau sejumlah lokasi alternatif, di antaranya Kampung Kapitan, Sungai Keramasan hingga Danau Jakabaring, dengan mempertimbangkan faktor keamanan, biaya pengamanan, dan kesiapan fasilitas.
Selain penyelenggaraan tahun ini, Irman juga menyiapkan konsep pengembangan Festival Bidar agar menjadi atraksi budaya yang lebih besar. Ia mengusulkan setiap kecamatan memiliki perahu Bidar sendiri sehingga muncul rasa memiliki dari masyarakat.
“Kalau setiap kecamatan punya perahu sendiri, masyarakat akan lebih bangga dan merasa memiliki. Identitas perahu sebaiknya menggunakan nama wilayah, bukan nama perusahaan atau sponsor,” katanya.
Ia juga berencana memperkaya Festival Bidar dengan ritual adat, pementasan drama musikal legenda Dayang Merindu, serta rangkaian kegiatan budaya lainnya sebagai bagian dari penguatan cerita dan sejarah Bidar.
Irman berharap setelah revitalisasi Benteng Kuto Besak selesai pada 2027, Festival Bidar dapat kembali digelar di kawasan tersebut dengan konsep yang lebih besar dan terintegrasi.
“Kami berharap mulai 2027 Festival Bidar kembali dilaksanakan di pelataran BKB dengan konsep yang lebih meriah dan mampu menjadi event budaya bertaraf nasional bahkan internasional. Untuk itu kami membutuhkan dukungan seluruh pihak, terutama para budayawan dan masyarakat,” pungkasnya.

