Close Menu
relung.idrelung.id
  • Relung Community
  • Indeks
  • Regional
  • Hukum
  • Politik
  • Bola
  • Bisnis
  • Techno
  • Otomotif
  • Video
  • Liputan Khusus
  • Even
  • Advertorial
  • Karir

Subscribe to Updates

Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

What's Hot

Kembali ke Golkar, HBA Tegaskan Tak Bermusuhan dengan Joncik Muhammad

11/10/2026

Hotspot Sumsel Turun Jadi 1.959 Titik, Udara PALI Masuk Kategori Berbahaya

11/10/2026

Karhutla Sudah Bikin Malu Bangsa, Asap Indonesia Ganggu Negara Tetangga 

10/10/2026
Facebook X (Twitter) Instagram YouTube TikTok
relung.idrelung.id Sunday, 11 October 2026
Facebook X (Twitter) Instagram YouTube TikTok
Login
  • Indeks
  • Regional
  • Politik
  • Hukum
  • Liputan Khusus
  • Bisnis
  • Lifestyle
  • Bola
  • Techno
  • Otomotif
  • Advertorial
  • Video
relung.idrelung.id
Home»Indeks»Regional»Pedagang Luar Serbu Gabah Sumsel, Harga Petani Melonjak di Atas HPP
Regional

Pedagang Luar Serbu Gabah Sumsel, Harga Petani Melonjak di Atas HPP

alwiBy alwi23/09/2026
Share Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Reddit Telegram Email
Gabah petani. (Istimewa/relung_
Share
Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email

RELUNG.ID – Petani padi di Sumatera Selatan (Sumsel) kini menghadapi situasi yang berbeda di tengah meningkatnya produksi.

Gabah hasil panen mereka mulai diperebutkan pedagang dan penggilingan dari luar daerah, bahkan dengan tawaran harga jauh di atas Harga Pembelian Pemerintah (HPP).

Baca juga :   Delapan Kecamatan di Muara Enim Rawan Karhutla! 300 Personel Disiagakan

Harga gabah di tingkat petani saat ini disebut telah mencapai Rp7.500 hingga Rp7.700 per kilogram. Angka tersebut berada jauh di atas HPP gabah yang ditetapkan sebesar Rp6.500 per kilogram.

Gubernur Sumsel Herman Deru menilai kondisi tersebut justru memberikan keuntungan bagi petani. Menurutnya, pemerintah tidak perlu mempersoalkan persaingan selama harga pembelian masih berada di atas HPP.

“Kalau dia di atas Rp6.500, artinya HPP kita Rp6.500, dan ada yang menawarkan lebih tinggi dari situ, tentu menguntungkan petani,” kata Deru saat diwawancarai di Griya Agung, Rabu (23/9/2026).

Persaingan penyerapan gabah tersebut terjadi seiring produksi padi Sumsel yang mengalami peningkatan. Berdasarkan rilis Badan Pusat Statistik (BPS) pada 1 September 2026, produksi padi Sumsel periode Januari-Agustus 2026 meningkat 4,9 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Baca juga :   BMKG: Potensi Hujan di Palembang Terjadi Hingga Sore Hari

Deru bahkan mempertanyakan jika ada pihak yang keberatan dengan masuknya pedagang dari luar Sumsel. Menurutnya, perlu dilihat alasan pedagang luar daerah mampu menawarkan harga lebih tinggi kepada petani.

“Pertanyaannya, kenapa pembeli dari luar sanggup harga lebih tinggi? Apakah pembeli dari luar cukup dengan untung tipis, sementara kita mau untungnya besar?” ujarnya.

Menurut Deru, kondisi tersebut merupakan bagian dari mekanisme persaingan dalam menyerap hasil panen. Justru, persaingan harga dapat membuka pilihan lebih besar bagi petani dalam menjual gabahnya.

Meski persaingan harga dinilai menguntungkan petani, Deru meminta Bulog tetap memainkan peran sebagai penyeimbang dalam penyerapan gabah.

Baca juga :   LLDIKTI Wilayah II Catat 20 Perguruan Tinggi Swasta Belum Terakreditasi

Salah satu hal yang menurutnya perlu diperhatikan adalah tingkat rendemen atau persentase beras yang dihasilkan dari proses penggilingan gabah.

“Saran saya kepada Bulog, rendemen juga harus diperhatikan,” katanya.

Deru mengaku menemukan perbedaan tingkat rendemen di sejumlah wilayah Sumsel. Dari pengecekan yang dilakukannya, rendemen penggilingan gabah Bulog di salah satu Rice Milling Unit (RMU) di Palembang mencapai sekitar 51 persen.

Sementara di wilayah lain, rendemen disebut hanya berada di kisaran 48–49 persen.

“Kenapa di salah satu wilayah lain di Sumatera Selatan ini ada yang 49 persen, 48 atau 49 persen? Kok ada beda? Sementara padi kita kualitasnya sama,” ujarnya.

Baca juga :   Hadiri Rekonsiliasi Pengelolaan Panas Bumi, Wali Kota Pagar Alam Dukung Program Transformasi Energi

Menurut Deru, perbedaan tersebut perlu ditelusuri karena tingkat rendemen berkaitan dengan nilai ekonomi yang diperoleh dari hasil penggilingan gabah.

Ia meminta persoalan itu dikomunikasikan dengan Bulog. Deru juga menyatakan siap menjadi saksi apabila diperlukan untuk memastikan perbedaan tingkat rendemen tersebut dapat ditelusuri.

Kepala Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura Sumsel Bambang Pramono sebelumnya memastikan masuknya pedagang luar daerah tidak membuat ketersediaan beras Sumsel terganggu.

Menurut Bambang, produksi beras Sumsel masih mencukupi kebutuhan konsumsi masyarakat meski sebagian gabah diserap pembeli dari luar daerah.

Baca juga :   Mandi di Sungai Musi, Bocah Perempuan di Palembang Terseret Arus dan Tenggelam

“Meski sebagian gabah diserap pedagang dari luar daerah, produksi Sumsel masih mencukupi kebutuhan konsumsi masyarakat,” katanya.

Dengan jumlah penduduk Sumsel yang hampir mencapai 9 juta jiwa, kebutuhan konsumsi beras diperkirakan sekitar 72 ribu ton per bulan atau sekitar 850 ribu ton per tahun.

Sementara produksi beras Sumsel pada tahun sebelumnya mencapai sekitar 2,1 juta ton. Dengan perbandingan tersebut, Sumsel masih berada dalam kondisi surplus produksi beras.

Bambang mengatakan tingginya harga gabah juga tidak terlepas dari kemampuan pedagang luar daerah memberikan tawaran lebih tinggi. Salah satunya berasal dari Sumatera Barat.

Baca juga :   Polda Sumsel Matangkan Operasi Senpi Musi 2026, Kapolda: Peredaran Senjata Ilegal Ancaman Nyata

Pedagang dari luar Sumsel disebut masih mampu membeli gabah dengan harga tinggi karena memiliki pasar beras dengan harga jual yang juga lebih tinggi.

“Pedagang-pedagang dari luar Sumatera Selatan itu masih mampu membelinya karena mereka punya harga jual yang lebih tinggi,” katanya.

Dengan harga gabah yang kini mencapai Rp7.500–Rp7.700 per kilogram, petani Sumsel berada dalam situasi di mana hasil panennya memiliki daya tawar lebih tinggi. (THQ)

Gabah Gubernur Sumsel Herman Deru Sumsel
Share. Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
Previous ArticlePolisi Bergaji Rp2,9 Juta, Ipda Yayat Diduga Kuasai Belasan Rumah Mewah
Next Article Siswa Tewas Tersedak Kelengkeng MBG, Kepala Kampung Minta Program Dievaluasi
alwi

Related Posts

Regional

Kembali ke Golkar, HBA Tegaskan Tak Bermusuhan dengan Joncik Muhammad

11/10/20262 Views
Regional

Hotspot Sumsel Turun Jadi 1.959 Titik, Udara PALI Masuk Kategori Berbahaya

11/10/20262 Views
Regional

Karhutla Sudah Bikin Malu Bangsa, Asap Indonesia Ganggu Negara Tetangga 

10/10/20268 Views
Add A Comment

Leave A Reply Cancel Reply

Demo
Top Posts

Olahraga Berbahaya! Ini Manfaat Parkour untuk Kesehatan Tubuh

09/10/202328,922 Views

Hukum dan Keutamaan Puasa Syawal

11/04/202428,794 Views

Daerah Kelimpungan Hadapi Pemangkasan TKD, Menkeu Purbaya Tegaskan Disiplin Fiskal Tak Bisa Dilanggar

08/10/202522,767 Views

Keajaiban Tersembunyi di Talang Sarang Bulan: Curup Ayek Bayau

21/07/20244,403 Views

Tabrak Ambulans Bawa Pasien, Kuasa Hukum RSUD Bayung Lencir Soroti Pemilik Truk Tangki

02/06/20251,359 Views
Stay In Touch
  • Facebook
  • YouTube
  • TikTok
  • WhatsApp
  • Twitter
  • Instagram

Subscribe to Updates

Get the latest tech news from FooBar about tech, design and biz.

Demo
Facebook X (Twitter) Instagram YouTube TikTok
  • Tentang Kami
  • Info Kontak
  • Info Kerjasama
  • Karir
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy & Policy
© 2026

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

Sign In or Register

Welcome Back!

Login to your account below.

Lost password?