RELUNG.ID- Meninggalnya Reyhan Arisyah Putra (9), siswa SD Negeri 03 Poncowarno, Kecamatan Kalirejo, Lampung Tengah, setelah tersedak biji kelengkeng dari menu Makan Bergizi Gratis (MBG), mendorong evaluasi terhadap pelaksanaan program tersebut.
Kepala Kampung Poncowarno Heri Eliyanto mengatakan, peristiwa tersebut tidak seharusnya berhenti dianggap sebagai musibah semata. Menurut dia, kejadian itu harus menjadi bahan evaluasi agar tidak terulang.
“Ini benar semua takdir dari Allah, garis hidup anak yang enggak mungkin bisa dihindari, tapi besar harapan kami, jadikan ini pembenahan dan koreksi diri masing-masing. Jangan dianggap ini semata musibah terus berlalu, takut nanti kejadian lagi,” kata Heri.
Peristiwa tersebut terjadi pada Selasa (22/9/2026) sekitar pukul 08.30 WIB saat kegiatan belajar mengajar berlangsung.
Saat itu, siswa mendapatkan makanan dari program MBG. Reyhan kemudian dilaporkan mengalami tersedak ketika mengonsumsi buah kelengkeng yang menjadi bagian dari menu.
Kepala Satuan Pelayanan Program Gizi (SPPG) wilayah setempat, Yogi Ganda, mengatakan pihak sekolah kemudian melaporkan kejadian tersebut.
“Siswa posisi lagi belajar mengajar, terus pagi itu makan MBG. Tiba-tiba ada pihak guru yang melaporkan bahwasanya ada salah satu siswa tersedak,” ujar Yogi, Rabu (23/9/2026).
Reyhan kemudian dibawa ke puskesmas terdekat untuk mendapatkan pertolongan. Karena membutuhkan penanganan lebih lanjut, korban dirujuk ke RS Kartini Kalirejo.
Namun, nyawa Reyhan tidak berhasil diselamatkan.
Yogi mengatakan, hingga saat ini pihak SPPG belum menerima panduan khusus dari Badan Gizi Nasional (BGN) mengenai jenis buah yang dilarang disajikan dalam menu MBG.
“Dari BGN belum ada pemberitahuan masalah buah yang dilarang. Ke depannya mungkin kita koordinasi dengan Korcam (Koordinator Kecamatan) dan koordinator wilayah untuk menghindari jenis makanan tersebut sementara waktu,” kata Yogi.
Setelah kejadian tersebut, pihak SPPG berencana berkoordinasi dengan koordinator kecamatan dan wilayah untuk menentukan jenis makanan atau buah yang sementara waktu perlu dihindari.
Meninggalnya Reyhan juga berdampak secara emosional terhadap para guru di SD Negeri 03 Poncowarno.
Heri mengatakan sejumlah guru merasa terpukul, tertekan, dan kehilangan setelah salah satu siswa mereka meninggal.
“Para dewan guru ini merasa tertekan, merasa disalahkan, dan bersedih luar biasa. Padahal kita tahu bersama, tugas utama seorang guru adalah mendidik dan memandaikan anak bangsa,” ujar Heri.
Menurut dia, para guru telah berupaya memberikan pertolongan ketika insiden terjadi. Korban kemudian dibawa ke fasilitas kesehatan sebelum akhirnya dirujuk ke rumah sakit.
Heri meminta masyarakat tidak terburu-buru menyalahkan pihak sekolah atas kejadian tersebut.
“Ini musibah. Ibu-ibu guru juga merasa sangat kehilangan. Mereka merawat dan mendidik anak-anak itu. Musibah ini bukan semata-mata kelalaian mereka, karena pengawasan terhadap puluhan anak aktif tentu memiliki batas,” katanya.
Ia juga meminta dukungan moral diberikan kepada para guru agar mereka tetap dapat menjalankan kegiatan belajar mengajar.
“Saya sampaikan kepada para guru, ‘Sudah, saya dampingi. Tugas Ibu-Ibu jelas mengajar’. Mari kita beri dukungan moral kepada mereka, jangan sampai semangat mereka patah dalam membina generasi penerus,” ujarnya.
Heri menilai kejadian tersebut harus menjadi momentum untuk memperbaiki pelaksanaan program MBG, khususnya dari sisi keamanan makanan yang diberikan kepada siswa.
Ia menekankan pentingnya sinergi antara sekolah, SPPG, pemerintah daerah, hingga pihak terkait lainnya dalam memastikan makanan yang diberikan kepada anak-anak aman dikonsumsi.
Koordinasi dengan kader posyandu juga dinilai diperlukan agar pelaksanaan program dapat berjalan lebih baik.
“Intinya besar harapan kami adalah sinergi. Kami tetap mendukung program pemerintah asal itu dalam garis yang benar untuk masyarakat kita. Kita benahi bersama-sama ke depan untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan dan menjaga marwah program Presiden,” pungkas Heri.
Pemerintah Kampung Poncowarno bersama unsur Muspika Kalirejo juga disebut telah memberikan pendampingan kepada keluarga korban dan pihak sekolah hingga proses pemakaman.
Kondisi sekolah kini mulai berangsur tenang. Namun, para guru masih menghadapi dampak emosional setelah kehilangan salah satu siswa mereka.
Peristiwa tersebut menjadi perhatian terhadap pentingnya evaluasi pelaksanaan MBG, terutama dalam memastikan makanan yang disajikan kepada siswa aman dan sesuai dengan kondisi anak-anak yang menjadi penerima program.[YKP]

