RELUNG.ID- Penampilan seseorang tidak selalu mencerminkan isi hati dan tujuan hidupnya. Hal ini dibuktikan oleh dua pria bertato yang menginspirasi banyak orang melalui aksi kemanusiaan yang mereka lakukan.
Agus Sutikno dan M Ridho, meski memiliki penampilan yang tidak biasa, tetap menunjukkan bahwa kontribusi positif terhadap masyarakat adalah hal yang lebih penting daripada penilaian berdasarkan penampilan fisik.
Agus Sutikno, seorang pendeta bertato dan berambut gondrong yang dikenal dengan julukan “Street Preacher” atau “Pendeta Jalanan”, telah menunjukkan dedikasinya untuk membantu kaum marginal di Kota Semarang.
Bukan berdakwah di gereja, Agus memilih untuk turun langsung ke kampung-kampung kumuh dan berinteraksi dengan anak-anak jalanan, pekerja seks, pengidap HIV/AIDS, dan transgender.
Pada 2015, Agus mendirikan Yayasan Hati Bagi Bangsa, yang berfokus pada pemberian pendidikan kepada anak-anak yang kurang mampu. Hingga kini, ia telah berhasil menyekolahkan hampir 200 anak tanpa bantuan pemerintah.
Agus menegaskan bahwa tato yang ada di tubuhnya sudah ada jauh sebelum ia mengenal Tuhan, namun hal itu tidak menghalanginya untuk terus memberikan manfaat bagi orang lain.
“Bagi saya, penampilan itu tidak penting, yang penting adalah bagaimana hidup kita bermanfaat untuk orang lain,” ujar Agus.
Kisah inspiratif lainnya datang dari M Ridho, seorang pria bertato asal Malang yang membuat ulama kondang Gus Iqdam terkesan.
Pada acara Maulid Nabi Muhammad SAW di Mapolda Jatim pada 29 September 2023, M Ridho memainkan alat musik darhuka untuk mengiringi lantunan sholawat dan tarian sufi. Meskipun tubuhnya penuh tato, termasuk lubang bekas tindik pada telinganya, Ridho tetap tampil dengan penuh khusyuk dan semangat.
Gus Iqdam memberi apresiasi kepada M Ridho atas keteguhannya dan memberikan hadiah uang saku senilai satu juta rupiah. Gus Iqdam juga berharap agar M Ridho tetap istiqomah di jalan yang benar. “Saya kagum dengan semangatnya. Ini luar biasa,” ujar Gus Iqdam.
M Ridho mengungkapkan bahwa masa lalunya yang penuh dengan kesulitan dan pergaulan bebas, terutama setelah perpisahan orang tuanya, membawa dirinya ke dunia jalanan. Namun, tiga tahun lalu, ia berhijrah dan bergabung dengan kelompok shalawat di Malang.
“Saya ingin pesan saya bisa membantu orang lain yang berada di jalan yang salah,” kata M Ridho.
Kisah Agus dan M Ridho mengajarkan kita bahwa masa lalu dan penampilan seseorang tidak menentukan seberapa besar dampak positif yang bisa mereka berikan kepada orang lain. Tato dan penampilan yang dianggap “berbeda” tidak menghalangi mereka untuk melakukan aksi kemanusiaan yang luar biasa.
“Yang terpenting adalah bagaimana kita hidup untuk memberi manfaat bagi orang lain,” kata Agus.[YKP]

