RELUNG.ID– Hujan deras yang mengguyur Kota Palembang sejak Senin (10/11/2025) dini hari kembali menyingkap lemahnya sistem drainase dan pengendalian banjir di kota ini.
Dalam hitungan jam, sejumlah ruas jalan utama tergenang air dan berubah menjadi “sungai dadakan”, membuat ribuan warga terjebak berjam-jam di tengah kemacetan panjang.
Hujan yang mulai turun sekitar pukul 01.45 WIB disertai petir dan angin kencang baru mereda menjelang subuh. Namun, dampaknya masih terasa hingga pagi. Parit-parit meluap, kolam retensi gagal menampung debit air, dan genangan tinggi membuat kendaraan merambat pelan di sejumlah titik vital kota.
Titik banjir paling parah terjadi di Jalan Kolonel H. Burlian KM 7,5 depan Punti Kayu. Debit air dari parit yang tak tertampung menyebabkan badan jalan tergenang hingga setinggi setengah ban motor. Akibatnya, kendaraan roda dua banyak yang mogok, sementara arus lalu lintas mengular hingga Simpang Bandara Sultan Mahmud Badaruddin II.
“Saya terjebak hampir satu jam di kawasan Punti Kayu, kendaraan tidak bisa bergerak karena air sudah menutupi jalan,” ujar Agit salah satu pengendara motor.
Kondisi serupa juga terjadi di KM 5 kawasan Pasar Tradisional, di mana aktivitas pedagang bertemu dengan genangan air yang tak kunjung surut.
Sementara itu, di Simpang Polda Sumsel, kolam retensi yang seharusnya menjadi penampung justru meluap ke badan jalan. Air bahkan mencapai lutut orang dewasa di beberapa titik.
“Sudah biasa banjir di sini, apalagi kalau hujan deras malam hari. Tapi parahnya sampai sekarang belum ada tindakan nyata dari pemerintah,” kata Dayat, warga sekitar Simpang Polda.
Selain kawasan utama, banjir juga merendam permukiman warga di Sekip, Pipa Reja, Basuki Rahmat, dan Kertapati. Warga bahkan mengaku sudah terbiasa dengan kondisi ini setiap kali hujan deras turun.
“Jam lima subuh air mulai masuk rumah. Sekarang sudah selutut orang dewasa,” tutur Nurmala (43), warga Jalan Letnan Simanjuntak, belakang Taman Makam Pahlawan.
Menanggapi kondisi tersebut, pengamat sosial Bagindo Togar menilai banjir di Palembang bukanlah hal baru, namun menjadi bukti nyata lemahnya keseriusan pemerintah kota dalam mengatasi masalah klasik ini.
“Kalau pemerintah kota serius, banjir seperti di Simpang Polda tidak akan terjadi lagi. Itu kan jantung kota, terasnya Palembang. Kok bisa seperti kubangan?” ujarnya.
Bagindo menyebut kawasan Simpang Polda seharusnya menjadi etalase kota, bukan wilayah langganan genangan. Ia menilai situasi ini memperlihatkan gagalnya tata kelola drainase perkotaan.
“Ini yang memalukan, karena lokasi strategis yang jadi pintu masuk kota justru terendam air setiap hujan turun. Polda Sumsel sendiri jadi korban paling repot karena aksesnya terganggu,” katanya.
Ia mendesak Pemkot Palembang dan dinas terkait segera melakukan langkah konkret untuk perbaikan sistem drainase secara permanen, bukan hanya tindakan darurat setiap kali banjir datang.
“Drainase di Palembang ini mungkin salah satu yang terburuk di Indonesia. Pemerintah harus berhenti bertindak seperti pemadam kebakaran baru heboh saat banjir, lalu hilang setelah air surut,” tegasnya.
Bagindo menambahkan, banjir kali ini menjadi peringatan keras bahwa Palembang semakin rentan terhadap perubahan cuaca ekstrem dan lemahnya infrastruktur dasar kota.
“Kota ini butuh solusi jangka panjang, bukan pencitraan sesaat,” pungkasnya.[FZP]

