Close Menu
relung.idrelung.id
  • Relung Community
  • Indeks
  • Regional
  • Hukum
  • Politik
  • Bola
  • Bisnis
  • Techno
  • Otomotif
  • Video
  • Liputan Khusus
  • Even
  • Advertorial
  • Karir

Subscribe to Updates

Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

What's Hot

Wakapolres Hingga Kasi Propam Polres Lubuklinggau Resmi Berganti

22/10/2026

KPK Ingatkan Pemkot Pagar Alam Soal Korupsi di Pemerintahan

22/10/2026

Dibintangi Song Hye Kyo dan Gong Yoo, Drakor Tantara Tayang 11 Desember di Netflix

22/10/2026
Facebook X (Twitter) Instagram YouTube TikTok
relung.idrelung.id Thursday, 22 October 2026
Facebook X (Twitter) Instagram YouTube TikTok
Login
  • Indeks
  • Regional
  • Politik
  • Hukum
  • Liputan Khusus
  • Bisnis
  • Lifestyle
  • Bola
  • Techno
  • Otomotif
  • Advertorial
  • Video
relung.idrelung.id
Home»Indeks»Regional»Asap Karhutla Belum Hilang, Sumsel Diintai Ancaman Banjir Bandang
Regional

Asap Karhutla Belum Hilang, Sumsel Diintai Ancaman Banjir Bandang

RiyadiBy Riyadi21/10/2026
Share Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Reddit Telegram Email
Prof. Dr. Ir. Achmad Syarifudin, M.Sc., PU.SDA (kanan) saat melakukan audiensi dengan Gubernur Sumsel, Herman Deru. (Dokumentasi Humas Pemprov Sumsel)
Share
Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email

RELUNG.ID–  Ancaman bencana di Sumatera Selatan (Sumsel) belum berakhir. Ketika kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) masih menyelimuti sejumlah wilayah, masyarakat dan pemerintah daerah kini diingatkan untuk mewaspadai potensi banjir hingga banjir bandang akibat hujan ekstrem.

Direktur Pascasarjana Universitas Bina Darma Palembang sekaligus anggota Dewan Sumber Daya Air (SDA) Sumsel, Prof Dr Ir Achmad Syarifudin, M.Sc., PU.SDA, mengatakan perubahan tata ruang, aktivitas pertambangan, dan berkurangnya kawasan resapan air dapat meningkatkan risiko bencana hidrologi.

Menurut Achmad, pemerintah daerah tidak boleh lengah menghadapi ancaman banjir hanya karena bencana tersebut belum terjadi dalam skala besar. Potensi bencana harus diantisipasi sejak dini dengan memperhitungkan curah hujan, kondisi daerah aliran sungai (DAS), serta kemampuan lingkungan menampung dan mengalirkan air.

Baca juga :   Pendapatan Negara Sumsel Tembus Rp7,95 Triliun, Belanja Justru Tertekan

“Setelah asap hilang, bukan berarti ancaman bencana berakhir. Kita harus bersiap menghadapi musim hujan. Jangan abai terhadap potensi banjir, bahkan banjir bandang,” ujar Achmad saat dihubungi, Rabu (21/10/2026).

Ia menyebut sejumlah wilayah yang perlu mendapat perhatian, mulai dari Ogan Komering Ulu (OKU), OKU Selatan, Muara Enim, Ogan Ilir, Ogan Komering Ilir (OKI), Musi Rawas Utara (Muratara), Musi Rawas, Musi Banyuasin, hingga Banyuasin.

Wilayah-wilayah tersebut perlu mengantisipasi peningkatan debit sungai saat hujan ekstrem, terutama di kawasan yang memiliki tingkat kerawanan banjir tinggi.

Baca juga :   Longsor Mengancam Kampung Tinggi Hari Pagar Alam, Warga Diminta Waspada

Achmad mengingatkan, banjir bandang yang pernah terjadi pada 2021 harus menjadi pelajaran penting bagi pemerintah daerah. Kesiapsiagaan perlu dibangun berdasarkan data hidrologi, karakteristik wilayah, dan potensi hujan ekstrem agar langkah mitigasi tidak terlambat.

“Jangan sampai kita baru bergerak setelah bencana terjadi. Potensi banjir harus diprediksi dan diantisipasi sejak awal, terutama di daerah yang memiliki kerawanan tinggi,” katanya.

Ia menjelaskan, risiko banjir tidak hanya ditentukan oleh tingginya curah hujan. Perubahan tata ruang, aktivitas penggalian tambang, kondisi lahan gambut, serta berkurangnya daerah resapan air juga dapat memengaruhi keseimbangan hidrologi.

Baca juga :   Senin 3 April 2023, Waktu Maghrib Untuk Wilayah Palembang dan Sekitarnya

Kondisi kawasan yang terdampak karhutla turut menjadi perhatian. Perubahan tutupan lahan dan fungsi resapan berpotensi memengaruhi limpasan air hujan. Karena itu, dampaknya terhadap aliran sungai dan risiko banjir perlu dikaji berdasarkan kondisi setiap wilayah.

Achmad menegaskan, mitigasi banjir harus dilakukan secara terpadu dengan melibatkan sektor lingkungan hidup, kehutanan, pertambangan, pekerjaan umum, dan penanggulangan bencana.

Sebagai langkah antisipasi, Dewan SDA Sumsel akan menggelar Seminar Mitigasi Banjir di Hotel Aryaduta Palembang pada 11 November 2026. Kegiatan tersebut akan membahas kesiapan teknis menghadapi banjir, mulai dari genangan yang mengancam permukiman hingga potensi banjir bandang.

Baca juga :   KAI Divre III Palembang Siapkan 75.968 Tempat Duduk Sambut Libur Idul Adha dan Liburan Sekolah

Achmad mengatakan Gubernur Sumsel Herman Deru telah menyatakan dukungan terhadap agenda tersebut. Dukungan pemerintah provinsi diharapkan memperkuat koordinasi antardaerah dalam mengantisipasi ancaman bencana hidrologi.

Salah satu agenda yang didorong ialah membangun komitmen bersama para kepala daerah di sepanjang daerah aliran Sungai Musi. Langkah ini dinilai penting karena kondisi di wilayah hulu dapat memengaruhi aliran air dan risiko banjir di wilayah tengah hingga hilir.

Kawasan Pagar Alam, Lahat, dan OKU menjadi bagian dari wilayah yang perlu diperhatikan dalam pengelolaan DAS. Upaya mitigasi di hulu harus terintegrasi dengan langkah pengendalian banjir di wilayah hilir, termasuk Palembang.

Baca juga :   Tak Sekadar Dilantik, Syaidina Ali Dorong PMII Sumsel Hadir di Pos-Pos Strategis

“Penanganan banjir tidak bisa dilakukan sendiri-sendiri. Harus terintegrasi karena kondisi di hulu dapat memengaruhi wilayah di hilir. Kesiapan setiap kepala daerah di kawasan DAS Musi perlu dibangun bersama,” ujarnya.

Seminar tersebut sekaligus menjadi momentum pelaksanaan Sidang I Dewan SDA Sumsel setelah sekitar tiga tahun tidak menggelar sidang. Forum ini memiliki peran strategis dalam koordinasi dan pengelolaan sumber daya air di tingkat provinsi.

Achmad berharap sidang tersebut menghasilkan rekomendasi konkret untuk memperkuat mitigasi banjir dan pengelolaan DAS secara terpadu. Menurutnya, peringatan terhadap ancaman bencana harus diikuti langkah nyata, mulai dari pemetaan risiko hingga pembagian tanggung jawab yang jelas antardaerah.

Baca juga :   Demi Ibadah Haji, Dua Pria Asal Pulau Jawa Jalan Kaki ke Mekkah

“Yang terpenting, kita tidak boleh abai. Risiko harus dikenali, kesiapan harus dibangun, dan setiap daerah harus memiliki tanggung jawab yang jelas dalam mitigasi banjir,” pungkasnya.[KBP]

Asap Banjir bandang Karhutla Sumsel
Share. Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
Previous ArticleCoolpad Cool X Wide Resmi Diperkenalkan, Usung Layar 16:10 dan Kamera 50MP
Next Article Bukan Sekadar Soal Batu Bara, PLTU Banjarsari Berhenti Operasi Ancam Nasib Pekerja
Riyadi

Related Posts

Regional

Wakapolres Hingga Kasi Propam Polres Lubuklinggau Resmi Berganti

22/10/20261 Views
Regional

KPK Ingatkan Pemkot Pagar Alam Soal Korupsi di Pemerintahan

22/10/20261 Views
Regional

Sidang Perdana Bupati Edison, Jaksa KPK Ungkap Dugaan Suap Rp500 Juta untuk WTP

22/10/20265 Views
Add A Comment

Leave A Reply Cancel Reply

Demo
Top Posts

Olahraga Berbahaya! Ini Manfaat Parkour untuk Kesehatan Tubuh

09/10/202330,310 Views

Hukum dan Keutamaan Puasa Syawal

11/04/202430,144 Views

Daerah Kelimpungan Hadapi Pemangkasan TKD, Menkeu Purbaya Tegaskan Disiplin Fiskal Tak Bisa Dilanggar

08/10/202524,096 Views

Keajaiban Tersembunyi di Talang Sarang Bulan: Curup Ayek Bayau

21/07/20244,403 Views

Tabrak Ambulans Bawa Pasien, Kuasa Hukum RSUD Bayung Lencir Soroti Pemilik Truk Tangki

02/06/20251,360 Views
Stay In Touch
  • Facebook
  • YouTube
  • TikTok
  • WhatsApp
  • Twitter
  • Instagram

Subscribe to Updates

Get the latest tech news from FooBar about tech, design and biz.

Demo
Facebook X (Twitter) Instagram YouTube TikTok
  • Tentang Kami
  • Info Kontak
  • Info Kerjasama
  • Karir
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy & Policy
© 2026

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

Sign In or Register

Welcome Back!

Login to your account below.

Lost password?