RELUNG.ID – Asap Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) kini mulai meluas dan berdampak kepada kualitas udara di sejumlah wilayah di Sumsel.
Hal ini memicu kekhawatiran terhadap dampak kesehatan masyarakat, khususnya Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA).
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Sumsel, Ira Primadesa Ogahtriyah, mengatakan pihaknya telah diminta meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi potensi memburuknya kualitas udara akibat kabut asap.
“Kami sudah meminta seluruh Dinas Kesehatan kabupaten dan kota meningkatkan kewaspadaan, mulai dari sosialisasi kepada masyarakat, memperkuat surveilans penyakit, hingga menyiagakan fasilitas pelayanan kesehatan apabila terjadi peningkatan kasus,” ujarnya, Kamis (6/8/2026).
Melalui surat edaran tersebut, pemerintah daerah diminta mengoptimalkan koordinasi lintas sektor, meningkatkan edukasi mengenai bahaya kabut asap, mengaktifkan pemantauan kualitas udara, hingga memastikan puskesmas, pustu, poskesdes, dan rumah sakit siap memberikan pelayanan jika jumlah pasien meningkat.
Selain itu, kabupaten dan kota yang terdampak karhutla juga diminta menyiapkan posko kesehatan, menyediakan logistik yang memadai, serta melaporkan perkembangan kasus ISPA dan pneumonia setiap pekan sebagai bahan evaluasi.
Meski kewaspadaan ditingkatkan, data Dinkes Sumsel menunjukkan tren kasus ISPA sepanjang Januari hingga Juni 2026 masih lebih baik dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Pada Januari 2026 tercatat 50.651 kasus dan menurun menjadi 33.582 kasus pada Juni. Sementara pada 2025, jumlah kasus mencapai 45.131 pada Januari dan meningkat menjadi 40.067 kasus pada Juni.
Namun menurut Ira, penurunan tersebut belum bisa menjadi jaminan kondisi tetap aman karena musim kemarau baru memasuki puncaknya. Jika kabut asap semakin pekat, risiko gangguan kesehatan diperkirakan ikut meningkat.
“Semester pertama memang menunjukkan tren yang lebih baik, tetapi memasuki Agustus hingga September kita tetap harus waspada karena kualitas udara berpotensi menurun akibat karhutla,” katanya.
Palembang masih menjadi daerah dengan jumlah kasus ISPA tertinggi di Sumsel dengan 85.032 kasus. Disusul Muara Enim sebanyak 30.668 kasus, Musi Banyuasin 17.946 kasus, OKU Timur 15.109 kasus, Banyuasin 14.140 kasus, Musi Rawas 13.700 kasus, serta Lahat 13.523 kasus. Ribuan kasus juga tercatat di OKI, Ogan Ilir, Lubuklinggau, Prabumulih hingga Pagar Alam.
Ira menjelaskan ISPA merupakan infeksi yang menyerang saluran pernapasan mulai dari hidung hingga paru-paru. Penyakit ini dapat dipicu oleh virus, bakteri, jamur maupun paparan polusi udara, termasuk asap kebakaran hutan dan lahan.
Gejala yang paling sering muncul meliputi batuk, pilek, hidung tersumbat, demam, sakit tenggorokan, sakit kepala, hingga tubuh terasa lemas.
Pada kondisi yang lebih berat, penderita dapat mengalami sesak napas, nyeri dada, demam tinggi berkepanjangan bahkan bibir membiru yang membutuhkan penanganan medis segera.
Kelompok yang paling rentan terdampak ialah balita, lansia, ibu hamil, serta penderita penyakit kronis karena memiliki daya tahan tubuh yang lebih rendah terhadap paparan polusi udara.
Dinkes Sumsel mengimbau masyarakat untuk mulai melakukan langkah pencegahan sejak dini, seperti menjaga kualitas udara di dalam rumah, menghindari asap rokok dan pembakaran sampah, menggunakan masker saat kualitas udara memburuk, serta menerapkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS).
Masyarakat juga diminta memperbanyak konsumsi air putih, mengonsumsi makanan bergizi, beristirahat cukup, dan segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan apabila mengalami batuk berkepanjangan, demam tinggi, atau sesak napas.
“Jangan menunggu sampai kondisi menjadi berat. Bila keluhan tidak membaik atau muncul sesak napas, segera datang ke puskesmas atau rumah sakit agar dapat ditangani lebih cepat,” tutupnya. (THQ)

