RELUNG.ID – Atraksi debus menjadi salah satu perhatian utama dalam acara Pengukuhan dan Pelantikan Mitra Paguyuban Pasundan Kabupaten Musi Rawas di Aula Pemkab Musi Rawas, Minggu (1/11/2026).
Aksi menegangkan yang menampilkan kekuatan fisik dan ketahanan tubuh tersebut menyita perhatian tamu undangan, termasuk Bupati Musi Rawas, Hj Ratna Machmud. Bahkan, orang nomor satu di Bumi Lan Serasan Sekentenan itu terlihat mengabadikan atraksi tersebut menggunakan kamera handphone.
Selain debus, kemeriahan acara juga diwarnai penampilan tari jaipong dan paduan suara yang dibawakan anggota Paguyuban Pasundan.
Dalam kesempatan itu, Ema Siti Huzaima Ahmad yang juga menjabat Kepala Kejaksaan Negeri Musi Rawas resmi dikukuhkan sebagai Ketua Paguyuban Pasundan Musi Rawas.
Ema mengatakan, keberadaan Paguyuban Pasundan diharapkan menjadi wadah mempererat silaturahmi masyarakat Sunda sekaligus memperkuat hubungan sosial dengan berbagai kelompok masyarakat di Musi Rawas.
“Paguyuban ini sebagai wadah silaturahmi,” ujarnya.
Sementara itu, Pengurus Paguyuban Pasundan Pusat, Prof Kunkurat, menyampaikan dukungan terhadap pengembangan budaya Sunda di Musi Rawas. Sebagai bentuk dukungan, pihaknya menyerahkan seperangkat gamelan Sunda kepada pengurus setempat.
“Mudah-mudahan potensi budaya Sunda di Musi Rawas dapat berkembang. Tadi paduan suaranya luar biasa,” katanya.
Ia menjelaskan, Paguyuban Pasundan telah berkembang hingga hampir seluruh kabupaten/kota di Indonesia. Organisasi tersebut bahkan memiliki jaringan di sejumlah negara, seperti Amerika Serikat, Kanada, Jepang, kawasan Timur Tengah, dan Australia.
Menurutnya, Paguyuban Pasundan bukan sekadar organisasi kedaerahan, melainkan gerakan kebudayaan yang bertujuan memperkenalkan dan mengembangkan potensi budaya Sunda di berbagai wilayah.
“Ini adalah gerakan budaya untuk mengajak orang mengenai potensi budaya,” jelasnya.
Kunkurat menambahkan, salah satu faktor yang membuat Paguyuban Pasundan tetap eksis adalah konsistensinya bergerak di bidang pendidikan. Saat ini, organisasi tersebut memiliki empat universitas serta 112 sekolah menengah atas dan kejuruan.
“Investasi yang paling utama adalah SDM melalui pendidikan. Pentingnya dibentuk Paguyuban Pasundan di mana pun berada untuk pelestarian budaya. Jangan sampai budaya kita kalah oleh budaya asing,” tegasnya.
Di sisi lain, Bupati Musi Rawas, Hj Ratna Machmud, menyambut positif kehadiran Paguyuban Pasundan. Ia menilai keberadaan organisasi tersebut dapat memperkaya keberagaman budaya sekaligus memperkuat kerukunan masyarakat di Musi Rawas.
Menurutnya, Musi Rawas merupakan daerah dengan latar belakang masyarakat yang beragam, mulai dari suku Jawa, Bali, Padang hingga Sunda.
“Saya sangat senang dengan paguyuban masyarakat ini. Di Musi Rawas ini banyak sekali sukunya, ada Jawa, Bali, Padang, dan ada juga beberapa pejabat di sini orang Sunda. Banyak ragam kebudayaan di Musi Rawas,” pungkasnya. (NSR)

