RELUNG.ID – Sekitar 15 Sekolah Dasar Negeri (SDN) di Kota Pagar Alam mengalami kekurangan murid pada tahun ajaran baru 2025.
Kondisi ini dialami salah satunya di SDN 71 di Desa Maura Perikan Kelurahan Gunung Dempo, Kecamatan Pagar Alam Selatan yang hanya mendapatkan satu siswa.
Plt Kepala Sekolah SD Negeri 71 Kota Pagar Alam Kusnin membenarkan hal tersebut.
Dia mengungkapkan, jika pada tahun ajaran baru ini sekolahnya hanya mendapatkan satu siswa baru saja.
“Ya benar pak, sekolah kami tahun ini hanya mendapatkan satu siswa baru saja. Ini sudah terjadi sejak lama disekolah kami karena sedikitnya warga yang bermukim disekitar sekolah,” ujarnya.
Dikatakan Kusnin, jika mayoritas warga yang tinggal disekitar sekolah merupakan pegawai atau pekerja daro PTPN 7 Pagar Alam. Karena banyaknya pegawai yang pindah tugas menyebabkan warga menjadi sedikit.
“Hal ini berdampak pada sedikitnya anak-anak usia sekolah yang masuk ke sekolah kami pak. Bayangkan jumlah siswa keseluruhan dari kepas I sampai kelas VI hanya ada 15 siswa saja,” katanya.
Diceritakan Kusnin, pada tahun 2008 lalu siswa di SD Negeri 71 mencapai 110 siswa. Namun sejak tahun 2010 jumlah siswa yang masuk terus saja berkurang bahkan setiap tahun hanya satu dan dua siawa saja yang masuk kesekolah tersebut.
“Dulu banyak pak tapi semakin lama semakin sedikit siswa yang masuk sekolah kami,” ungkapnya Senin (5/8)
Bahkan jumlah guru disekolah tersebut hanya berjumlah 7 orang terdiri dari 2 guru ASN, 4 guru PPPK dan masih ada 3 guru honor.
Minimnya murid SDN ini menjadi sorotan dari Ketua DPRD Pagar Alam, Jenny Sandyah. Dia menilai jika ini terjadi lantaran pemerintah daerah dianggap kurang memperhatikan mutu serta lokasi keberadaan sekolah-sekolah tersebut.
Berdasarkan data yang didapatnya dari dinas pendidikan ada sekitar 15 sekolah SD yang tahun ajaran baru 2025/2026 ini hanya mendapatkan siswa baru dengan jumlah dibawah 10 siswa.
“Ini menunjukan jika masyarakat Pagar Alam sudah tahu mutu pendidikan yang baik untuk anak mereka. Bahkan agar anaknya mendapatkan pendidikan yang layak mereka lebih memilih sekolah swasta dengan bayaran mahal dibandingkan memasukan anak mereka keselolah negeri meskipun gratis,” ujarnya.Selasa (5/8)
Kondisi ini dinilainya memprihatinkan sebab jika banyak orang tua murid yang lebih memilih sekolah swasta yang harus bayar mahal dibandingkan memasukan anaknya kesekolah negeri meskipun gratis para orang tua menilai mutu pendidikan anak lebih terjamin disekolah swasta.
“Ini harusnya menjadi perhatian pemerintah daerah untuk memeratakan tenaga pengajar yang memiliki dedikasi dan prestasi untuk ditempat disetiap sekolah dan tidak hanya disekolah yang ada ditengah kota saja.Harus ada sistem pemerataan guru berprestasi di Pagar Alam. Hal ini agar kualitas dan mutu semua sekolah di Pagar Alam bisa sama dengan sekolah swasta dan sekolah yang ada dipelosok juga bisa bersaing dengan sekolah yang ada di kota,” kata dia
Tidak hanya itu, diduga karena tidak ada survey dan uji petik dahulu sebelum membangun sekolah membuat ada beberapa sekolah yang tidak banyak mendapat siswa baru karena memang lokasi pembangunan sekolahnya berada dikawasan sedikit penduduk.
“Harusnya ada survey dan uji petik serta melibatkan konsultan sebelum membangun sekolah. Karena percuma ada sekolah jika tidak ada siswanya karena sekolah dibangun jauh dari permukiman padat penduduk,” ungkapnya.
“Kami DPRD Pagar Alam akan mendorong Pemkot Pagar Alam untuk mengelontorkan dana APBD untuk peningkatan mutu pendidikan secara merata di semua sekolah di Pagar Alam. Jangan hanya membangun insfrastruktur sekolah saja namun harus dibarengi dengan pembangunan mutu sekolah itu sendiri,” pungkasnya. (TFK)

