RELUNG.ID – Alpu Apriyadi menjadi salah satu siswa angkatan pertama Sekolah Rakyat Menengah Atas (SRMA) di Palembang.
Perjalanan Alpu hingga akhirnya menempuh pendidikan di sekolah berasrama itu tidaklah mudah. Ia bahkan sempat menolak karena harus berpisah dengan orang tuanya.
Sebelum bergabung dengan Sekolah Rakyat, Alpu merupakan siswa SMP Negeri 23 Palembang.
Kesempatan untuk melanjutkan pendidikan di Sekolah Rakyat datang melalui Program Keluarga Harapan (PKH), saat pendamping PKH menawarkan sekolah tersebut kepada keluarganya.
Awalnya, Alpu enggan menerima tawaran itu. Ia mengaku ingin tetap tinggal bersama orang tua di rumah mereka di kawasan Semarang Borang dan berencana melanjutkan sekolah ke salah satu SMA swasta.
“Saya awalnya tidak mau karena harus tinggal di asrama. Saya ingin tetap dekat dengan orang tua,” ujarnya.
Penolakan itu bahkan sempat memicu perdebatan dengan orang tuanya. Namun, setelah mendapat dorongan dari keluarga, Alpu akhirnya memutuskan menerima kesempatan tersebut.
Kini, setelah menjalani kehidupan di Sekolah Rakyat, pandangannya berubah. Menurutnya, berbagai fasilitas yang disediakan sangat membantu siswa untuk fokus belajar.
“Di sini kami mendapat makan tiga kali sehari, ada makanan ringan, dan juga uang saku. Jadi kebutuhan sehari-hari sudah dipenuhi,” katanya.
Alpu mengatakan, setiap kamar asrama dihuni delapan hingga sepuluh siswa dengan pendamping atau wali asuh yang bertugas membimbing mereka.
Secara keseluruhan terdapat tiga asrama, termasuk satu asrama khusus untuk siswi perempuan. Selain wali asuh di setiap kamar, terdapat pula wali asrama yang mengawasi kehidupan para siswa.
Dalam proses pembelajaran, Sekolah Rakyat menerapkan Kurikulum Merdeka. Para siswa juga mendapat berbagai kegiatan pembinaan karakter, termasuk pelatihan kedisiplinan yang melibatkan unsur militer pada masa awal masuk sekolah.
“Pelatihan itu membuat kami lebih disiplin,” ungkapnya.
Meski tinggal di asrama, Alpu tetap dapat bertemu keluarganya. Siswa diberikan kesempatan pulang setiap tiga bulan sekali dan juga menerima kunjungan dari keluarga pada waktu yang telah ditentukan.
Di sekolah ini, penggunaan telepon genggam dibatasi agar siswa lebih fokus belajar. Sebagai penunjang pembelajaran, sekolah menyediakan fasilitas laptop yang dapat digunakan oleh para siswa.
Alpu mengaku bersyukur bisa menjadi bagian dari Sekolah Rakyat. Dengan kondisi ekonomi keluarga yang sederhana, di mana sang ayah mengalami stroke ringan dan ibunya bekerja sebagai asisten rumah tangga, ia merasa kesempatan ini menjadi jalan untuk meraih masa depan yang lebih baik.
Kini, Alpu memiliki cita-cita menjadi anggota Kepolisian Republik Indonesia (Polri). Ia berharap pendidikan yang diterimanya di Sekolah Rakyat dapat menjadi bekal untuk mewujudkan impian tersebut.
Sementara itu, Menteri Sosial (Mensos), Saifullah Yusuf atau Gus Ipul mengatakan, proses penerimaan peserta didik di Sekolah Rakyat harus berlangsung jujur, transparan dan bebas dari praktik titipan.
Sekolah Rakyat ini bukanlah sekolah pada umumnya, dimana calon siswa diperoleh melalui mekanisme penjangkauan terhadap keluarga yang masuk dalam Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN), khususnya desil 1 dan 2.
“Jadi tidak ada pendaftaran, yang ada adalah penjangkauan melalui kriteria DTSEN dan kemudian ditetapkan menjadi siswa Sekolah Rakyat,” ujarnya.
Pihaknya juga kini mendorong Sekolah Rakyat di Palembang agar lebih baik lagi. Mengingat saat ini, masih keterbatasan lahan sehingga pembangunan Sekolah Rakyat masih harus tertunda.
“Kami akan dorong untuk pembebasan lahan sehingga nantinya dapat dilakukan pembangunan sekolah rakyat di Palembang,” tutupnya. (LWM)

