RELUNG.ID – Akun resmi Instagram Bank BNI @bni46 diserbu netizen setelah mencuatnya kasus dugaan penggelapan dana jemaat Gereja Katolik Paroki Santo Fransiskus Assisi Aek Nabara sebesar Rp28 miliar.
Serbuan komentar terjadi saat akun tersebut mengunggah konten promosi bertajuk “transaksi hari ini bayarnya bisa nanti” terkait fitur cicilan kartu kredit. Namun, kolom komentar justru dipenuhi pertanyaan dan kritik dari warganet yang menyinggung kasus dana umat yang hilang.
“Ditunggu ganti rugi umat Katolik Rp28 M, jangan cuma diganti Rp7 M doang,” tulis salah satu akun, Jumat (17/4/2026).
Menanggapi hal tersebut, pihak BNI melalui akun resminya memberikan penjelasan bahwa kasus di Aek Nabara merupakan tindakan oknum di luar sistem resmi perbankan.
“Kami mohon maaf atas kekhawatiran yang timbul terkait dugaan investasi fiktif di Aek Nabara, Sumatera Utara. Kejadian tersebut merupakan tindakan oknum di luar sistem, kewenangan, dan prosedur operasional resmi BNI,” tulis akun @bni46.
BNI juga menyatakan telah melaporkan kasus tersebut kepada aparat penegak hukum dan terus berkoordinasi untuk memastikan proses hukum berjalan secara objektif dan tuntas.
Namun, jawaban tersebut kembali menuai respons dari netizen yang menilai penjelasan tersebut bersifat normatif.
“Jawaban template banget,” tulis akun @titinhartinamelati.
Sebelumnya, seribuan jemaat Gereja Katolik Paroki Aek Nabara kembali menggelar aksi unjuk rasa di Kantor BNI Cabang Rantauprapat, Sumatera Utara, Rabu (15/4/2026). Mereka menuntut pengembalian dana gereja dan umat sebesar Rp28 miliar yang diduga raib.
Aksi tersebut merupakan lanjutan dari demonstrasi pada 12 Maret 2026. Massa datang menggunakan berbagai kendaraan dan memadati lokasi sambil membawa spanduk berisi tuntutan.
Dalam aksi itu, jemaat mengaku sangat kecewa karena dana yang hilang merupakan tabungan hasil jerih payah umat yang dikumpulkan melalui Credit Union (CU) untuk kebutuhan pendidikan dan masa depan keluarga.
“Itu uang keringat kami. Ada yang dari hasil mencari berondolan. Uang itu untuk biaya sekolah anak-anak,” ungkap salah satu jemaat.
Massa juga menyoroti lemahnya pengawasan serta mendesak pihak bank untuk segera mengembalikan seluruh dana yang hilang.
Meski pihak BNI telah mentransfer Rp7 miliar ke rekening CU Paroki Aek Nabara, jemaat menilai langkah tersebut belum menyelesaikan persoalan.
“Kerugian kami Rp28 miliar. Kami khawatir hanya diganti Rp7 miliar,” tegas Pastor Paroki.[YKP]

