Sementara itu, Direktur Climate Policy Initiative, Tiza Mafira menambahkan, studi yang dikeluarkan oleh Climate Policy Initiative menunjukkan bahwa perbankan perlu memainkan peran lebih besar dalam membiayai transisi energi.
Sedangkan, di Indonesia sendiri investasi untuk energi batu bara dan gas mencapai dua kali lipat investasi untuk energi terbarukan, dan hampir seluruhnya berasal dari lembaga keuangan swasta. Hal ini berbeda dengan tren global.
“Justru tren global kebalikannya, investasi energi bersih mencapai dua kali lipatnya investasi fossil fuels,” katanya.
Mereka pun menyayangkan, Karena ini akan menimbulkan kekhawatiran bahwa Indonesia dilihat sebagai pasar yang tidak kondusif untuk investasi hijau.
Dari laporan Urgewald bertajuk Still Banking on Coal menunjukan, pada 2020 hingga 2023, Bank Mandiri menjadi salah satu bank yang memberikan pembiayaan yang besar pada sektor batu bara, mencapai US$ 1,3 miliar.
Sementara kajian Indonesia Corruption Watch (ICW) dan Trend Asia mengungkapkan, Bank Mandiri telah menyalurkan pembiayaan sektor batu bara hingga Rp66 triliun pada kurun waktu yang sama.
Tak hanya itu, analisa koalisi #BersihkanBankmu mencatat, pembiayaan Bank Mandiri untuk sembilan perusahaan batu bara di Indonesia pada 2016-2023 mencapai US$ 3,485 miliar dan Rp2,493 triliun.
Terpisah, Direktur Eksekutif Indonesia Cerah, Agung Budiono juga menambahkan, berkaca dari PLTU Cirebon-1 yang menggunakan teknologi yang sama dengan PLTU MT Sumsel-8.

