RELUNG.ID – Salah satu siswa SMP Sekolah Rakyat (SR) di Empat Lawang berinisial E terpaksa mendapatkan perawatan medis di RSUD Empat Lawang.
Hal ini dikarenakan E mengalami patah tulang pada tangan kanannya diduga menjadi korban bullying atau perundungan.
Berdasarkan unggahan akun instagram @artia_lulu06, kejadian bullying ini terjadi pada Kamis lalu 10 September 2026 lalu yang diduga dilakukan 4 siswa SMP dan 1 siswa SMA.
Kejadian bermula dari teguran karena ribut setelah sholat Isya saat pembagian bantal.
“Keponakan kami kemudian dicegat. Berdasarkan keterangan yang kami terima korban ditutup matanya, dihempaskan, dicekik hingga mengalami cidera patah tangan,” isi postingan tersebut.
Padahal korban baru 2 hari masuk di SR setelah MPLS yang dibuka secara resmi oleh Bupati Empat Lawang.
“Kami harap kejadian ini menjadi perhatian serius dan meminta adanya perlindungan terhadap anak untuk memastikan proses pendidikan mereka aman,” tutupnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A) Kabupaten Empat Lawang, Ice Apra Listiana, membenarkan adanya kejadian tersebut.
“Iya, benar itu di Sekolah Rakyat Empat Lawang,” ungkap Ice saat dikonfirmasi melalui pesan WhatsApp.
Terpisah, Kepala Sekolah Rakyat Terintegrasi 1 Empat Lawang, Suparno mengatakan, pihak sekolah langsung mengambil langkah setelah peristiwa terjadi pada Kamis malam, 10 September 2026.
Wali asrama disebut segera turun tangan untuk menghentikan kejadian.
“Kami sangat prihatin atas kejadian tersebut. Begitu peristiwa terjadi, wali asrama segera melerai dan mengamankan anak-anak yang terlibat,” kata Suparno melalui WhatsApp.
Menurutnya, peserta didik yang mengalami luka juga segera dibawa untuk mendapatkan penanganan medis. Langkah tersebut menjadi respons awal sekolah untuk memastikan kondisi anak mendapat perhatian.
Suparno menegaskan, keselamatan dan perlindungan seluruh peserta didik menjadi prioritas sekolah. Pihaknya juga terus membuka komunikasi dengan keluarga serta berkoordinasi dengan pihak berwenang.
“Sekolah terus berkomunikasi dengan keluarga dan berkoordinasi dengan pihak yang berwenang. Kami menghormati proses yang saat ini berlangsung,” ujarnya.
Di tengah proses tersebut, sekolah tidak hanya berfokus pada penanganan anak yang mengalami luka. Sistem pengawasan dan pola pengasuhan di lingkungan asrama turut dievaluasi.
Evaluasi itu dinilai penting untuk menemukan celah yang memungkinkan peristiwa serupa terjadi. Sekolah menyatakan langkah perbaikan diperlukan agar keamanan peserta didik semakin terjamin.
“Kami juga melakukan evaluasi terhadap pengawasan dan pengasuhan di lingkungan asrama agar kejadian serupa tidak terulang,” pungkasnya. (SLM)

