RELUNG.ID – Kualitas udara di Palembang kembali memburuk pada Sabtu (26/9/2026). Konsentrasi partikulat halus atau PM2.5 di Stasiun Musi 2 mencapai 419,3 µg/m³, sehingga masuk kategori berbahaya.
Kondisi tersebut menjadi perhatian karena kualitas udara di Palembang belum menunjukkan perbaikan signifikan dalam dua hari terakhir.
Asap yang menyelimuti kota diduga masih berkaitan dengan aktivitas kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di wilayah Ogan Komering Ilir (OKI) dan sekitarnya.
Kepala Stasiun Klimatologi Kelas I Sumsel Wandayantolis mengatakan, berdasarkan pemantauan grafik kualitas udara di Stasiun Musi 2, konsentrasi PM2.5 mencapai titik tertinggi pada dini hari.
“Berdasarkan grafik kualitas udara di Musi 2, masih terpantau kualitas udara berbahaya. Tertinggi pada pukul 02.00 WIB yang mencapai 419,3 µg/m³,” ujar Wandayantolis, Sabtu (26/9/2026).
Setelah mencapai puncak pada pukul 02.00 WIB, kondisi udara memang mengalami perubahan. Namun, kualitas udara masih berada pada level sangat tidak sehat hingga berbahaya.
Kondisi sangat tidak sehat terpantau pada pukul 03.00-05.00 WIB. Memasuki pukul 06.00 WIB, konsentrasi PM2.5 kembali berada pada level berbahaya dengan angka 251 µg/m³.
Fluktuasi tersebut menunjukkan paparan partikulat halus masih menjadi persoalan bagi warga Palembang, terutama ketika asap dari wilayah sekitar terbawa masuk ke perkotaan.
Wandayantolis menyebut kondisi tersebut tidak terlepas dari masih adanya karhutla di sejumlah wilayah Sumsel.
“Karhutla di OKI dan sekitarnya masih menjadi penyebab asap,” katanya.
Asap dari titik-titik kebakaran di wilayah tersebut dapat terbawa angin dan memengaruhi kualitas udara di Palembang. Kondisi cuaca dan pergerakan massa udara turut memengaruhi sebaran asap yang masuk ke wilayah perkotaan.
Karena itu, masyarakat diminta tidak hanya mengandalkan kondisi langit saat menentukan aktivitas di luar rumah. Pemantauan kualitas udara juga perlu menjadi pertimbangan, terutama ketika konsentrasi PM2.5 kembali meningkat.
Wandayantolis mengingatkan masyarakat agar tetap waspada terhadap perubahan kualitas udara. Penggunaan masker juga dianjurkan ketika harus beraktivitas di luar ruangan.
“Masyarakat tetap perlu berhati-hati dan membatasi paparan udara luar apabila kualitas udara kembali memburuk,” tutupnya. (THQ)

