RELUNG.ID- Presiden ke-7 Republik Indonesia, Joko Widodo (Jokowi), saat ini tengah digugat secara perdata oleh seorang pengusaha muda bernama Aufaa Luqmana terkait proyek mobil nasional Esemka. Gugatan tersebut juga turut melibatkan Wakil Presiden ke-13 Ma’ruf Amin dan PT Solo Manufaktur Kreasi (SMK), selaku produsen mobil Esemka.
Meski sedang menjadi sorotan hukum, mobil Esemka sejatinya menyimpan sejarah panjang yang dimulai lebih dari satu dekade silam. Berikut kilas balik perjalanan Esemka di Indonesia.
Gagasan awal pembuatan Esemka berawal dari seorang pemilik bengkel Kiat Motor, Sukiyat. Ia kerap membantu para siswa SMK di wilayah Solo dan Jawa Tengah untuk membuat mobil rakitan sebagai bagian dari kegiatan belajar. Dari situ, lahirlah berbagai prototipe mobil hasil kolaborasi antara dunia pendidikan dan praktisi otomotif.
Popularitas Esemka mulai mencuat pada 2012 saat Joko Widodo, yang kala itu menjabat sebagai Wali Kota Solo, menggunakan mobil Esemka sebagai kendaraan dinasnya. Mobil ini kemudian sempat digadang-gadang menjadi cikal bakal mobil nasional (mobnas).
Namun, gaung Esemka sempat meredup saat Jokowi pindah ke Jakarta dan menjabat Gubernur DKI. Ditambah lagi, penggagas utamanya, Sukiyat, menyatakan tidak lagi terlibat dalam proyek tersebut. Ia bahkan mendirikan perusahaan sendiri bernama PT Kiat Mahesa Wintor Indonesia (KMWI).
“Saya memang menggagas Esemka, tapi hanya sampai prototipe kesembilan. Sekarang Esemka tidak ada kaitannya dengan saya,” kata Sukiyat pada 8 Oktober 2018 lalu di Klaten.
Pada 6 September 2019, Presiden Jokowi meresmikan pabrik mobil Esemka milik PT Solo Manufaktur Kreasi di Sambi, Boyolali, Jawa Tengah. Ini menjadi tonggak baru bagi kelangsungan proyek Esemka.
Pabrik tersebut berdiri di atas lahan 115.000 meter persegi, dengan luas bangunan 12.500 meter persegi. Fasilitas produksi dilengkapi dengan peralatan modern dan mempekerjakan lulusan SMK dari wilayah Solo Raya. Di area pabrik juga tersedia lintasan uji coba seperti jalur tanjakan, jalan bergelombang, dan lintasan lurus.
Presiden Direktur PT Solo Manufaktur Kreasi, Eddy Wirajaya, mengatakan bahwa lahan pabrik merupakan tanah kas desa yang disewa selama 30 tahun. “Kami menyewa dari desa. Ada beberapa lahan tambahan yang nanti akan dipakai untuk area stok produk,” ujarnya.
Pabrik ini memiliki kapasitas produksi hingga 18.000 unit per tahun. Dua tipe mesin yang dirakit adalah diesel dan bensin.
Kini, Esemka kembali menjadi perbincangan setelah Aufaa Luqmana Re A (19), pemuda asal Solo, melayangkan gugatan wanprestasi terhadap Jokowi dan pihak terkait ke Pengadilan Negeri Solo. Ia mengklaim mengalami kerugian akibat gagal produksi mobil Esemka.
Meski demikian, aktivitas di pabrik Esemka di Boyolali tetap berlangsung seperti biasa. Rabu (9/4/2025), puluhan karyawan terlihat masih menjalankan aktivitasnya.
Kepala Desa Demangan, Rosyid Setiawan, menyebut bahwa sekitar 100–150 karyawan bekerja setiap hari. Ia juga memastikan bahwa pembayaran sewa lahan selama ini berjalan lancar, dengan harga sewa awal Rp114 juta per tahun yang kemudian naik menjadi Rp134 juta sejak dua tahun terakhir.
Petugas keamanan di gerbang pabrik pun menyatakan bahwa kegiatan produksi tidak terganggu meski sedang ramai gugatan.
“Masih beroperasi seperti biasa,” ujarnya singkat.[YKP]

