RELUNG.ID – Ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Sumatera Selatan diperkirakan masih akan berlangsung dalam beberapa bulan ke depan.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengungkapkan fenomena El Nino kini telah memasuki kategori kuat dan berpotensi meningkat menjadi sangat kuat, sehingga masyarakat diminta tetap meningkatkan kewaspadaan selama musim kemarau.
Kepala Stasiun Klimatologi Kelas I Sumatera Selatan, Wandayantolis, mengatakan puncak musim kemarau di wilayah Sumsel diprediksi terjadi pada Agustus hingga September. Sementara itu, musim kemarau diperkirakan baru berakhir pada pertengahan Oktober 2026.
“El Nino saat ini sudah berada pada kategori kuat dan masih berpotensi meningkat menjadi sangat kuat. Namun berdasarkan analisis BMKG, kondisi kemarau tahun ini diprakirakan tidak akan sekering kejadian ekstrem pada 1997 maupun 2015,” ujarnya, Jumat (31/7/2026).
Meski peluang hujan masih ada, menurutnya intensitas yang diperkirakan turun relatif rendah sehingga belum mampu menekan potensi munculnya titik panas secara signifikan.
“Kemarau diperkirakan berlangsung hingga pertengahan Oktober. Hujan masih mungkin terjadi, tetapi belum cukup efektif untuk menghentikan kemunculan hotspot,” katanya.
BMKG juga mencatat masih terdapat sejumlah wilayah di Sumatera Selatan yang mengalami hari tanpa hujan (HTH) lebih dari 40 hari.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa tingkat kekeringan di beberapa daerah masih cukup tinggi meskipun hujan sempat mengguyur wilayah Sumsel pada akhir Juli.
Dirinya menjelaskan hujan yang terjadi pada 19 hingga 30 Juli dipengaruhi oleh pelaksanaan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC). Dampaknya, rangkaian hari tanpa hujan di sebagian besar wilayah sempat terputus sehingga kini mayoritas daerah mencatat HTH berkisar enam hingga sepuluh hari.
“Namun, secara klimatologis kondisi tersebut belum cukup untuk mengubah karakter musim kemarau tahun ini. BMKG mencatat akumulasi curah hujan sepanjang Juli 2026 di sebagian besar wilayah Sumsel masih berada di bawah normal atau lebih rendah dibandingkan rata-rata klimatologis,”kata dia.
Kondisi itu menjadi sinyal bahwa ancaman karhutla belum berakhir. Lahan yang mulai mengering, ditambah suhu udara yang tinggi dan minimnya curah hujan, berpotensi memicu munculnya titik api baru apabila tidak diantisipasi sejak dini.
“Karena itu, kami mengimbau masyarakat, pelaku usaha, dan pemerintah daerah untuk tidak melakukan pembakaran lahan dalam bentuk apa pun serta meningkatkan kewaspadaan selama puncak musim kemarau berlangsung,” tutupnya. (THQ)

