RELUNG.ID- Sejumlah emak-emak yang tergabung dalam kelompok Suara Ibu Indonesia menggelar aksi memukul panci di Yogyakarta, Selasa (8/9/2026).
Aksi tersebut menjadi simbol perlawanan sekaligus bentuk desakan kepada pemerintah agar menghentikan pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Para peserta memulai aksi dari kawasan Tugu Golong Gilig. Mereka kemudian berjalan ke arah utara hingga Bundaran Universitas Gadjah Mada (UGM).
Di simpang empat Jetis, tidak jauh dari salah satu Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), massa berhenti untuk menyampaikan keresahan dan tuntutan terkait pelaksanaan program MBG.
Perwakilan Suara Ibu Indonesia, Kalis Mardiasih, mengatakan aksi tersebut dilakukan karena pemerintah dinilai belum serius mendengarkan berbagai kritik terhadap pelaksanaan program MBG.
Menurut Kalis, kritik tersebut datang dari berbagai kalangan, mulai dari akademisi, para ahli hingga masyarakat.
“Kami melihat pemerintah belum serius mendengarkan kritik dari akademisi, para ahli maupun masyarakat terkait pelaksanaan program MBG,” ujar Kalis dalam aksi tersebut.
Ia mengatakan pemilihan panci sebagai alat aksi memiliki makna tersendiri. Panci dianggap sebagai simbol keseharian para ibu di rumah yang kini dibawa ke ruang publik untuk menyuarakan keresahan.
Menurut Kalis, para ibu tidak hanya menjadi pihak yang menyaksikan persoalan pelaksanaan MBG, tetapi merasa perlu turun langsung menyampaikan tuntutan kepada pemerintah.
“Aksi memukul panci ini menjadi simbol bahwa para ibu sudah turun langsung dari rumah untuk menyuarakan tuntutan,” katanya.
Kalis menegaskan, persoalan yang disoroti dalam aksi tersebut tidak semata-mata berkaitan dengan kasus keracunan yang terjadi dalam pelaksanaan MBG.
Suara Ibu Indonesia juga menyoroti besarnya anggaran yang dialokasikan untuk program tersebut.
Mereka meminta pemerintah mempertimbangkan pengalihan anggaran MBG untuk kebutuhan mitigasi dan penanganan bencana hingga tuntas.
Menurut kelompok tersebut, penggunaan anggaran negara harus mempertimbangkan kebutuhan masyarakat yang dinilai lebih mendesak, termasuk menghadapi berbagai ancaman bencana.
Aksi berjalan dengan membawa pesan agar pemerintah mengevaluasi secara menyeluruh pelaksanaan MBG dan mendengarkan aspirasi masyarakat sebelum program tersebut terus diperluas.
Hingga aksi berlangsung, tuntutan penghentian MBG tersebut menjadi salah satu poin utama yang disuarakan peserta.[YKP]

