RELUNG.ID– Tren kenaikan harga karet membawa angin segar bagi para petani di Kabupaten Musi Banyuasin (Muba), Sumatera Selatan. Dalam beberapa bulan terakhir, harga karet yang dipasarkan melalui Unit Pengolahan dan Pemasaran Bokar (UPPB) terus menunjukkan peningkatan, sehingga berdampak pada naiknya pendapatan petani.
Sekretaris Dinas Perkebunan Kabupaten Muba, Supriyanto, mengatakan saat ini terdapat 126 UPPB aktif yang menjadi wadah pemasaran karet petani di berbagai wilayah Muba.
“Berdasarkan data yang dihimpun Dinas Perkebunan Muba, rata-rata harga karet di tingkat UPPB dalam dua bulan terakhir mencapai Rp22.670 per kilogram. Sementara sejak awal Juni hingga saat ini, harga rata-rata tercatat berada di kisaran Rp23.642 per kilogram,” kata Supriyanto, Kamis (25/6/2026).
Menurutnya, tren kenaikan harga tersebut menjadi kabar baik bagi para petani karena mampu meningkatkan nilai jual hasil panen sekaligus memperbaiki pendapatan mereka.
Ia menjelaskan, berdasarkan harga acuan SGX-Sicom dengan kadar karet kering (KKK) 50 persen, harga karet mengalami kenaikan sebesar Rp1.782 per kilogram, dari sebelumnya Rp17.552 menjadi Rp19.333 per kilogram.
“Kondisi ini menunjukkan pasar karet masih memberikan peluang yang cukup baik bagi petani, terutama yang telah bergabung dalam UPPB sehingga memperoleh harga jual yang lebih kompetitif dan transparan,” ujarnya.
Supriyanto menambahkan, keberadaan UPPB berperan penting dalam meningkatkan posisi tawar petani. Melalui pemasaran secara berkelompok, kualitas bahan olah karet (bokar) dapat lebih terjaga sehingga harga yang diterima petani cenderung lebih baik.
“UPPB berperan penting dalam meningkatkan posisi tawar petani. Dengan pemasaran secara berkelompok, kualitas bokar dapat lebih terjaga dan harga yang diterima petani juga cenderung lebih baik,” katanya.
Di tengah tren positif tersebut, Dinas Perkebunan Muba mengingatkan petani agar tetap menjaga kualitas bokar, terutama kebersihan dan kadar karet kering. Petani juga diminta tidak melakukan praktik yang dapat menurunkan kualitas, seperti menambah bahan tertentu untuk meningkatkan berat timbangan.
“Tetap jaga kualitas karet, jangan mencurangi berat karet dengan bahan tertentu. Kenaikan harga ini juga dipengaruhi tingginya permintaan, sehingga kualitas harus terus dijaga,” tegas Supriyanto.
Sementara itu, Rozak, seorang petani karet di Kecamatan Sekayu, mengaku kenaikan harga karet sangat membantu perekonomian keluarganya, terutama menjelang tahun ajaran baru sekolah.
“Alhamdulillah, sekarang bisa beli seragam anak sekolah. Kalau sebelumnya untungnya sangat sedikit, sekarang lumayan bisa memenuhi kebutuhan sehari-hari. Kami berharap harga ini bisa bertahan lama,” ujarnya.[YKP]

