RELUNG.ID – Harga kopi di pasar global mengalami lonjakan dan belum menunjukkan tanda-tanda penurunan.
Harga kopi ini pun tembus ke level tertinggi dalam kurun waktu 50 tahun terakhir.
Para analis menyebutkan jika terakhir kali harga kopi arabika ini diperdagangkan dengan harga tertinggi terjadi pada tahun 1977 lalu. Saat itu, Salju menghancurkan sebagian besar perkebunan di Brasil.
Karena itu, mereka berpendapatan kenaikan harga kopi saat ini disebabkan oleh kekeringan dan suhu tinggi di beberapa wilayah yang menjadi pemasok secara global.
Kondisi kekeringan dan suhu tinggi ini membuat perusahaan penggilingan kopi raksasa menaikkan harga.
Lonjakan harga ini tentunya menguntungkan petani kopi. Namun, hal ini membuat tantangan bagi para pedagang. Mengingat, konsumen kini mulai beralih mencari kopi yang lebih murah di tengah krisis biaya hidup yang makin tinggi.
Meski mengalami kenaikan yang signifikan, hal ini membuat kekhawatiran di Brasil yang merupakan produsen terbesar di dunia.
Kepala Strategi Komoditas di Saxo Bank Denmark, Ole Hansen mengatakan, negara ini mengalami kekeringan terburuk sejak 70 tahun terakhir selama Agustus dan September. Kemudian, diikuti oleh hujan deras pada Oktober.
“Ini menimbulkan kekhawatiran bahwa panen bunga bisa gagal,” katanya dikutip dari reuters, Sabtu (14/12).
Sementara itu, Kepala Ekonom Iklim dan Komoditas di Capital Economics, David Oxley menambahkan, harga kopi ini tentunya akan kembali menurun saat pasokan membaik dan stok kembali terisi. Namun, hal ini memakan waktu bertahun-tahun, bulan dalam kurun waktu bulan.
“Butuh waktu lama bagi harga kopi untuk pulih,” katanya. (EWJ)

