RELUNG.ID – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Sumatera Selatan (Sumsel) memasuki fase mengkhawatirkan. Jumlah titik panas atau hotspot melonjak hingga 3.039 titik hanya dalam hitungan hari.
Data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sumsel berdasarkan Sipongi menunjukkan 3.039 hotspot terdeteksi hingga Kamis (17/9/2026) pukul 08.30 WIB.
Jumlah tersebut meningkat tajam dibandingkan sehari sebelumnya. Pada Rabu (16/9/2026) pukul 05.00 WIB, hotspot di Sumsel masih berada di angka 2.545 titik.
Lebih jauh, akumulasi hotspot pada periode 1-17 September 2026 mencapai 49.591 titik, menjadi angka tertinggi untuk periode tersebut sejak 2015.
Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI) menjadi wilayah dengan jumlah hotspot terbanyak, mencapai 1.034 titik. Berikutnya Musi Banyuasin (Muba) 684 titik dan Banyuasin 379 titik.
Hotspot lainnya tersebar di Muara Enim sebanyak 299 titik, Musi Rawas Utara 149 titik, OKU Timur 143 titik, Musi Rawas 109 titik, OKU 71 titik, serta OKU Selatan 70 titik.
Kabid Penanganan Darurat BPBD Sumsel Sudirman mengatakan lonjakan hotspot menjadi perhatian serius karena Sumsel saat ini berada pada puncak musim kemarau yang dipengaruhi El Nino berkepanjangan.
Menurutnya, keberadaan hotspot di wilayah yang memiliki kawasan gambut perlu mendapat perhatian lebih. Kondisi lahan gambut yang mengering dapat meningkatkan potensi kebakaran dan membuat penanganannya menjadi lebih sulit.
“Keberadaan hotspot di sejumlah wilayah, terutama daerah yang memiliki kawasan gambut, menjadi salah satu indikator yang perlu diwaspadai karena dapat berkaitan dengan potensi terjadinya karhutla,” ujar Sudirman.
BPBD Sumsel pun memberikan perhatian khusus terhadap wilayah dengan kawasan gambut. Sebab, sebagian titik panas yang terpantau berada di lahan gambut, bahkan di sejumlah daerah jumlahnya lebih tinggi dibandingkan hotspot di lahan mineral.
“Tingginya jumlah hotspot membuat pemerintah daerah dan tim penanggulangan karhutla memperkuat langkah pencegahan dan penanganan kebakaran. Upaya tersebut terutama difokuskan pada wilayah yang memiliki kawasan gambut dan jumlah titik panas tinggi,” katanya.
Lonjakan hotspot juga terjadi bersamaan dengan temuan puluhan kejadian karhutla. Berdasarkan hasil patroli pada 16 September, tercatat 63 kejadian karhutla di sejumlah wilayah Sumsel.
“OKI kembali menjadi daerah dengan kejadian terbanyak, yakni 14 titik,”kata dia. (THQ)

