RELUNG.ID- Israel mengumumkan dimulainya evakuasi paksa warga Palestina dari wilayah yang disebut sebagai “zona tempur” di Gaza utara menuju selatan pada Minggu (17/8/2025).
Langkah ini dilakukan bersamaan dengan rencana operasi militer baru untuk menguasai Kota Gaza, pusat perkotaan terbesar di wilayah tersebut.
Kepala Staf IDF Eyal Zamir menegaskan bahwa militer telah menyetujui “rencana perang tahap selanjutnya” usai pembahasan dengan Komando Selatan. Target utama operasi kali ini adalah Kota Gaza, meski komunitas internasional memperingatkan ancaman besar terhadap ratusan ribu warga sipil.
Juru bicara militer Israel Avichay Adraee menyatakan pihaknya akan menyediakan tenda dan perlengkapan perlindungan melalui jalur Karem Abu Salem dengan bantuan PBB. Namun, PBB sejauh ini belum mengomentari klaim tersebut.
Kelompok Jihad Islam Palestina mengecam langkah tersebut sebagai “kejahatan kemanusiaan” dan bagian dari strategi Israel untuk menduduki Gaza.
Sejak pekan lalu, pasukan Israel meningkatkan operasi di pinggiran Kota Gaza, termasuk di kawasan Zeitoun dan Shujaiya. Serangan udara dan tembakan tank menghantam rumah-rumah dan kamp pengungsian.
Di al-Mawasi, zona yang sebelumnya ditetapkan sebagai “daerah aman”, sebuah serangan udara menewaskan satu keluarga, termasuk bayi berusia dua bulan. “Dua setengah bulan, apa yang telah dia lakukan?” kata seorang tetangga, menggambarkan tragedi tersebut.
Kementerian Kesehatan Gaza melaporkan sedikitnya 61.827 warga tewas sejak Oktober 2023. Malnutrisi telah menewaskan lebih dari 250 orang, termasuk 11 jiwa dalam 24 jam terakhir.
Direktur RS al-Shifa, Mohammed Abu Salmiya, menyebut kondisi pasien kritis akibat minimnya obat-obatan. Lebih dari 14.800 pasien disebut WHO membutuhkan perawatan medis darurat yang tidak tersedia di Gaza.
“Empat puluh ribu bayi kini menderita kekurangan gizi parah,” kata pejabat kesehatan Gaza, Munir al-Bursh.
Keluarga dari 50 tawanan Israel di Gaza juga menyerukan protes nasional, menuntut pemerintah memprioritaskan keselamatan sandera. Namun, Perdana Menteri Benjamin Netanyahu menolak kritik, dengan alasan tidak ada pilihan selain terus menggempur Hamas.
Mobilisasi pasukan tambahan diperkirakan akan berlangsung beberapa pekan, menandai babak baru yang semakin berbahaya dalam perang berkepanjangan di Gaza.[YKP]

