RELUNG.ID – Menjelang Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) yang akan digelar di Pondok Pesantren Bahrul Ulum, Tambakberas, Jombang, Jawa Timur, pada 27–31 Agustus 2026, dinamika pemilihan Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) periode 2026–2031 mulai menguat.
Sejumlah tokoh yang digadang-gadang maju sebagai calon ketua umum mulai melakukan safari silaturahmi ke berbagai daerah, termasuk ke Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Sumatera Selatan.
Ketua PWNU Sumatera Selatan, KH Hendra Zainuddin Al Qodiri, mengatakan hingga saat ini pihaknya belum menentukan arah dukungan kepada salah satu kandidat. Menurutnya, keputusan tersebut akan diambil melalui mekanisme organisasi dengan mengedepankan musyawarah bersama para pengurus dan masyayikh.
“Belum ada keputusan terkait dukungan. Nanti akan kami bahas dalam rapat internal dan meminta pertimbangan para masyayikh. Tradisi musyawarah menjadi bagian penting dalam setiap pengambilan keputusan di NU,” ujar Hendra saat menerima kunjungan Pengasuh Pondok Pesantren Mamba’ul Ma’arif Denanyar, Jombang, KH Abdussalam Shohib atau Gus Salam di Pondok Pesantren Aulia Cendekia, Talang Jambe, Palembang, Kamis (16/7/2026).
Hendra menegaskan, menghangatnya dinamika menjelang muktamar merupakan hal yang lumrah dalam organisasi sebesar Nahdlatul Ulama. Baginya, seluruh proses tersebut merupakan ikhtiar bersama untuk melahirkan pemimpin terbaik bagi organisasi.
“Kami meyakini setiap proses yang berlangsung adalah bagian dari upaya menghadirkan pemimpin terbaik bagi Nahdlatul Ulama. Yang terpenting adalah hasil akhirnya mampu membawa kemaslahatan bagi organisasi dan umat,” katanya.
Ia berharap Muktamar ke-35 NU dapat berlangsung dengan lancar serta menghasilkan kepemimpinan yang mampu menjaga persatuan organisasi sekaligus memperkuat peran NU dalam mengabdi kepada masyarakat.
“Siapa pun yang terpilih nantinya diharapkan dapat menjaga soliditas organisasi, memperkuat ukhuwah, dan menjawab harapan warga Nahdliyin di seluruh Indonesia,” ujarnya.
Menurut Hendra, PWNU Sumsel juga tetap membuka ruang silaturahmi bagi seluruh tokoh NU yang memiliki niat maju sebagai calon Ketua Umum PBNU. Tradisi sowan, kata dia, merupakan budaya yang telah lama dijaga di lingkungan Nahdlatul Ulama sebagai bentuk penghormatan dan mempererat persaudaraan.
“Siapa pun yang datang bersilaturahmi akan kami sambut dengan baik. Itu tradisi yang sudah mengakar di NU. Silaturahmi tidak serta-merta dimaknai sebagai bentuk dukungan politik organisasi,” tegasnya.
Sejauh ini, selain Gus Salam, sejumlah tokoh NU yang disebut akan maju sebagai calon Ketua Umum PBNU juga telah bersilaturahmi dengan Ketua PWNU Sumsel. Di antaranya KH Abdul Hakim Mahfudz atau Gus Kikin serta KH Yusuf Chudlori.
Meski intensitas komunikasi antarcalon dengan pengurus wilayah mulai meningkat, Hendra menegaskan seluruh kunjungan tersebut masih berada dalam koridor silaturahmi. Adapun sikap resmi PWNU Sumsel akan diputuskan melalui mekanisme organisasi menjelang pelaksanaan muktamar.
“Kami menghormati seluruh calon. Namun keputusan mengenai arah dukungan akan ditetapkan secara kolektif melalui musyawarah sesuai tradisi dan tata kelola organisasi NU,” pungkasnya. (DSK)

