RELUNG.ID – Kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) yang terjadi di Sumsel juga ikut dirasakan wilayah Lubuklinggau.
Tercatat, hingga saat ini 22 hektare lahan di Kota Lubuklinggau terbakar.
Kabid Penanggulangan Bencana Dinas Pemadam Kebakaran dan Penanggulangan Bencana Lubuklinggau, Suryo menjelaskan, pihaknya mencatat hingga dengan saat ini sudah 54 kali terjadi karhutla. Dimana penyebab karhutla diduga akibat puntung rokok.
“Kalau lahan-lahan kering kebanyakan karena kejadian di pinggir jalan, tapi curiganya sih rokok. Karena kejadiannya di pinggir jalan, ada juga yang jauh dari jalan. Perkiraan luas lahan yang terbakar akibat karhutla antara 20 hektar sampai 22 hektar,” kata Suryo pada Selasa, 15 September 2026.
Menurutnya, rata-rata karhutla yang titik apinya tidak terlalu besar menghanguskan antara 0,1 hektar hingga 0,2 hektar. Sedangkan karhutla dengan titik api yang besar itu menghanguskan antara 3 sampai 4 hektar lahan seperti yang terjadi di belakang terminal Petanang kemarin.
“Kalau yang lain-lain rata-rata antara 0,1 hektar atau 0,2 atau 0,5 dan ada juga 1 hektar,” timpalnya.
Selain itu, Suryo juga mengungkapkan, dari lima wilayah Kecamatan yang terdapat di kota Lubuklinggau, Kecamatan Lubuklinggau Utara I termasuk wilayah yang paling banyak terjadi karhutla.
“Karena di wilayah itu kan luasan lahan terbesar banyak di Utara 1 yang terbakar Seperti di GOR Petanang, di jalan poros yang arah ke Siring Agung, kemudian di jalur arah ke Taba Baru, kemudian Jogoboyo masuk Utara 2. Tapi kalau yang didalam kota seperti Timur dan Barat itu rata-rata 0,1atau 0,2 hektar,” ungkapnya.
Sejauh ini, penanganan karhutla yang dilakukan pihaknya masih dalam berjalan dengan baik. Meskipun terkadang armada harus menangani proses pemadaman di lokasi atau titik berbeda dengan waktu hang bersamaan.
“Makanya mungkin menurut warga mengatakan agak terlambat, tapi karena armada kami terbagi harus memadamkan di tempat bersamaan,” terangnya.
Damkar Lubuklinggau menurutnya, memilik 5 untu armada. Namun jumlah tersebut tidak keseluruhan di operasikan untuk turun ke lapangan menangani karhutla.
“Tidak bisa seluruhnya turun karena tetap harus ada 2 yang standby untuk antisipasi kebakaran rumah seperti di pos induk. Kalau turun semua khawatir tidak ada armada lagi apabila ada kebakaran rumah. Jadi untuk karhutla yang diturunkan ke lapangan antara 3 sampai 4,” pungkasnya. (NSR)

