RELUNG.ID- Kasus tewasnya Sri Wulandari (53), pekerja pencuci ompreng program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kota Palembang, masih menyisakan duka mendalam bagi keluarga.
Korban ditemukan meninggal dunia dalam kondisi terjerat di bekas perkebunan nanas di Desa Gaung Asam, Kecamatan Belida, Kabupaten Muara Enim, Sumatera Selatan, Rabu (28/1/2026) pagi.
Ditemui di rumah duka, putri bungsu korban, Indy Azzahra, mengungkapkan kronologi terakhir komunikasi dengan sang ibu sebelum dinyatakan hilang dan ditemukan meninggal dunia.
Menurut Indy, komunikasi terakhir dengan korban terjadi pada Kamis (22/1/2026) sejak pagi hingga sekitar pukul 14.00 WIB. Saat itu, korban menyampaikan bahwa dirinya tengah menemani seorang rekan kerja untuk bepergian ke Prabumulih.
“Ibu bilang sedang menemani pelaku yang minta diantarkan ke travel Musi 6 ke Prabumulih untuk menemui anak dan istrinya,” ujar Indy kepada wartawan, Kamis (29/1/2025).
Sejak Kamis sore, keluarga tidak lagi dapat menghubungi korban. Merasa khawatir, pihak keluarga kemudian melaporkan hilangnya Sri Wulandari ke pihak kepolisian pada Sabtu (24/1/2026).
“Sejak Kamis sore kami tidak bisa menghubungi ibu lagi. Kami lalu membuat laporan orang hilang ke polisi,” tambahnya.
Indy juga membantah isu yang menyebutkan adanya hubungan spesial antara ibunya dengan terduga pelaku Andi (48). Ia menegaskan bahwa korban dan pelaku hanya sebatas rekan kerja di salah satu Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Palembang.
“Ibu baru bekerja sebagai pencuci ompreng MBG, hanya membantu-bantu saja. Kenal dengan pelaku karena sama-sama bekerja di sana. Tidak ada hubungan dekat, mereka hanya rekan kerja,” tegas Indy.
Terkait kendaraan korban, Indy menyebutkan bahwa saat terakhir pergi, ibunya mengendarai sepeda motor milik pribadi. Namun hingga jenazah korban dipulangkan ke rumah duka, kendaraan tersebut belum diketahui keberadaannya.
“Motor itu yang dipakai ibu. Sampai sekarang kami belum tahu di mana. Bahkan BPKB motor juga sudah tidak ada di rumah,” jelasnya.
Atas peristiwa tersebut, pihak keluarga berharap aparat kepolisian dapat mengusut tuntas kasus kematian Sri Wulandari dan memberikan hukuman setimpal kepada pelaku.
“Saya belum melihat kondisi mama karena belum diizinkan pihak kepolisian. Katanya ada jeratan di leher, luka di kaki dan lain-lain seperti yang diberitakan media. Kami mohon kepada polisi untuk mengusut tuntas kasus ini. Kami minta keadilan,” tutup Indy.
Diberitakan sebelumnya,seorang Office Boy (OB) yang bekerja di salah satu Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) kota Palembang, Sumatera Selatan menyerahkan diri ke polisi setelah mengaku membunuh rekan kerjanya sendiri.
OB tersebut adalah Andi (38). Sementara, korban yang merupakan rekannya sendiri adalah seorang perempuan bernama Wulandari (50).
Andi menyerahkan diri ke Polsek Ilir Barat I, Palembang pada Selasa (27/1/2026) usai mengaku membunuh korban dan meninggalnya ke di Kabupaten Muara Enim pada Kamis (22/1/ 2026).
Dikatakan Andi, korban selama ini sering menggodanya di tempat kerja. Namun, Andi tak menghiraukan hal tersebut karena telah memiliki istri dan anak.
Pada Kamis saat kejadian, Andi bermaksud hendak pergi ke Desa Gaung Asam, Muara Enim, untuk mengembalikan terpal yang ia pinjam dari pamannya.
Korban yang mengetahui pelaku akan pergi dengan menaiki mobil travel memaksa untuk ikut.
“Dia maksa mau ikut, akhirnya pergi pakai motor korban ke Muara Enim,”kata Andi saat berada di Polsek Ilir Barat I, Palembang, Rabu (28/1/2026). [DNP]

