RELUNG.ID – Pemerintah Indonesia berupaya memperkuat komitmen terhadap pengembangan pariwisata hijau dan berkelanjutan.
Hal ini sebagai fondasi masa depan sektor pariwisata nasional, khususnya bagi usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana menegaskan bahwa pariwisata hijau merupakan fondasi penting bagi masa depan industri pariwisata Indonesia.
Menurutnya, perubahan paradigma menuju praktik berkelanjutan harus dimulai dari pelaku usaha, terutama UMKM yang selama ini menjadi penggerak utama ekonomi pariwisata.
“UMKM memiliki kontribusi besar dalam penciptaan lapangan kerja, penguatan ekonomi lokal, dan pelestarian budaya. Karena itu, mereka harus menjadi bagian utama dalam transisi menuju pariwisata hijau,” ujar Widiyanti.
Dia menjelaskan, sektor pariwisata Indonesia saat ini tengah mengalami transformasi dari pendekatan berbasis atraksi menuju pendekatan berbasis nilai, dengan keberlanjutan sebagai fokus utama.
Transformasi ini selaras dengan arah kebijakan nasional dalam RPJMN 2025–2029 yang menekankan pengelolaan destinasi berkelanjutan, penguatan rantai pasok yang inklusif, penerapan prinsip Ekonomi Biru, Hijau, dan Sirkular, serta pengembangan infrastruktur dan pembiayaan ramah lingkungan.
Widiyanti juga mendorong UMKM untuk mengadopsi model bisnis yang ramah lingkungan, mulai dari efisiensi energi, pengelolaan limbah, hingga perlindungan keanekaragaman hayati dan kearifan lokal.
Dia menilai, penerapan praktik hijau akan meningkatkan daya saing UMKM sekaligus memberikan dampak sosial dan lingkungan yang positif.
“Pariwisata hijau tidak hanya soal menjaga lingkungan, tetapi juga menciptakan pekerjaan layak dan memperkuat posisi Indonesia sebagai destinasi pariwisata yang bertanggung jawab,” katanya.
Direktur Organisasi Perburuhan Internasional (ILO) untuk Indonesia dan Timor-Leste, Simrin Singh menyampaikan, bahwa ILO mendukung penuh komitmen Pemerintah Indonesia dalam memperluas pariwisata hijau.
Menurutnya, kolaborasi ini berperan penting dalam mendorong inovasi, ketangguhan, dan inklusivitas sektor pariwisata.
“Pariwisata hijau adalah katalis pembangunan berkelanjutan. Dampaknya meluas, tidak hanya pada sektor pariwisata, tetapi juga pada perlindungan lingkungan, pelestarian budaya, dan upaya mitigasi perubahan iklim,” ujar Simrin.
Kerja sama antara Kemenpar dan ILO telah terjalin sejak 2023 melalui program Partnership for Action on Green Economy (PAGE).
Program ini berfokus pada penguatan kapasitas UMKM agar mampu menerapkan praktik bisnis berkelanjutan melalui pelatihan, pengembangan modul, serta pendampingan di berbagai daerah.
Hingga kini, program PAGE telah menghasilkan 19 pelatih tersertifikasi dan modul pelatihan yang mencakup kewirausahaan, literasi keuangan, serta pariwisata hijau. Proyek percontohan yang dilaksanakan di Jawa Tengah, DIY, Sumatra Utara, dan NTB telah memberikan manfaat langsung kepada ratusan pelaku UMKM pariwisata. (ril)

