RELUNG.ID – Kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) nonsubsidi jenis Pertamax memicu gelombang protes di sejumlah daerah.
Mahasiswa dari berbagai organisasi dan perguruan tinggi turun ke jalan untuk menyampaikan penolakan terhadap kebijakan yang dinilai semakin menambah beban ekonomi masyarakat.
Di Jakarta, puluhan mahasiswa yang tergabung dalam Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Jakarta Pusat-Utara menggelar aksi demonstrasi di kawasan Jalan Cikini Raya, Jakarta Pusat, Rabu (10/6/2026) malam.
Aksi yang berlangsung hingga malam hari itu sempat diwarnai ketegangan antara peserta demonstrasi dan aparat kepolisian sebelum akhirnya massa membubarkan diri sekitar pukul 21.32 WIB.
Ketua HMI Cabang Jakarta Pusat-Utara, Amiruddin Emon, mengatakan aksi tersebut merupakan bentuk respons terhadap berbagai persoalan nasional yang tengah menjadi perhatian publik.
Menurutnya, kenaikan harga Pertamax menjadi salah satu faktor utama yang mendorong mahasiswa turun ke jalan.
“Kenaikan BBM menjadi salah satu pemicu utama aksi karena dampaknya sangat dirasakan masyarakat,” ujarnya.
Selain menyoroti kenaikan harga BBM, massa juga mengangkat isu transparansi Program Makan Bergizi Gratis (MBG), pelemahan nilai tukar rupiah, serta dugaan praktik korupsi dalam sejumlah program pemerintah.
HMI menilai kenaikan harga Pertamax berpotensi memicu efek berantai terhadap berbagai sektor, mulai dari biaya transportasi hingga harga kebutuhan pokok yang dapat berdampak langsung pada daya beli masyarakat.
Terkait pembubaran aksi, Amiruddin menyebut demonstrasi dilakukan secara spontan sehingga tidak didahului dengan penyampaian surat pemberitahuan kepada pihak kepolisian. Meski demikian, aksi berlangsung tanpa laporan korban maupun kerusakan fasilitas umum.
Aksi serupa juga berlangsung di Kota Kendari, Sulawesi Tenggara. Mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Halu Oleo (UHO) menggelar demonstrasi di kawasan Bundaran Tank, Anduonohu.
Aksi yang berlangsung sejak sore hingga malam hari tersebut sempat diwarnai pembakaran ban bekas di tengah jalan, yang menyebabkan kepadatan arus lalu lintas di salah satu kawasan bisnis utama Kota Kendari.
Dalam orasinya, mahasiswa menilai kenaikan harga BBM nonsubsidi akan semakin memperberat kondisi ekonomi masyarakat yang saat ini sudah menghadapi kenaikan harga berbagai kebutuhan pokok.
Mereka berpendapat bahwa kebijakan tersebut berpotensi meningkatkan biaya distribusi barang dan jasa yang pada akhirnya berdampak pada kenaikan harga kebutuhan sehari-hari.
Selain itu, mahasiswa menilai pemerintah perlu mempertimbangkan dampak sosial dan psikologis yang ditimbulkan akibat kenaikan harga BBM, khususnya bagi kelompok masyarakat berpenghasilan rendah dan menengah.
HMI Cabang Jakarta Pusat-Utara memastikan akan kembali menggelar aksi lanjutan sebagai bentuk protes terhadap kenaikan harga BBM dan berbagai isu nasional lainnya.
Menurut Amiruddin, Jalan Cikini Raya kembali dipilih sebagai lokasi aksi karena berada dekat dengan sekretariat organisasi serta dinilai strategis untuk menjangkau perhatian masyarakat. (vid)

