RELUNG.ID – Pernyataan Presiden Prabowo Subianto yang menyebut satu penggilingan padi dapat meraup keuntungan hingga Rp2 triliun per bulan saat musim panen memicu beragam tanggapan.
Di Sumatera Selatan, dua pejabat di sektor pangan menilai angka tersebut sulit terjadi jika dihitung berdasarkan mekanisme bisnis penggilingan padi saat ini.
Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Peternakan (DKPP) Sumsel, Ruzuan Efendi, mengatakan keuntungan industri penggilingan padi memang bisa mencapai puluhan hingga ratusan miliar rupiah per bulan, terutama bagi perusahaan yang memiliki banyak pabrik. Namun, menurutnya, laba hingga Rp2 triliun dalam satu bulan tidak realistis.
“Kalau sampai triliunan tidak. Misalnya satu perusahaan menjual 100 ribu ton beras dalam sebulan atau setara 100 juta kilogram. Kalau keuntungan bersihnya Rp1.000 per kilogram, laba yang diperoleh sekitar Rp100 miliar,” kata Ruzuan.
Ia menjelaskan, besarnya keuntungan penggilingan padi dipengaruhi harga pembelian gabah dan rendemen beras yang dihasilkan.
Dengan harga gabah sekitar Rp7.500 per kilogram dan rendemen sekitar 50 persen, harga jual beras agar mencapai titik impas berada di kisaran Rp15.000 per kilogram.
“Kalau harga jual beras hanya Rp14.500 sampai Rp14.700 per kilogram, margin keuntungannya tentu tidak sebesar yang dibayangkan,” ujarnya.
Menurut Ruzuan, agar sebuah perusahaan mampu meraih laba Rp1 triliun dalam sebulan dengan volume penjualan 100 juta kilogram, maka keuntungan bersih harus mencapai sekitar Rp10.000 per kilogram.
“Mana mungkin untung Rp10 ribu per kilogram. Itu sangat tidak realistis,” tegasnya.
Ruzuan menyebut Sumatera Selatan memiliki lebih dari 10 perusahaan penggilingan padi berskala besar, di antaranya Buyung, BPR, Wilmar, dan sejumlah perusahaan lain. Meski memiliki kapasitas produksi besar, menurutnya keuntungan yang diperoleh tetap mengikuti mekanisme pasar.
Ia menduga pernyataan Presiden lebih merupakan pesan kepada pelaku usaha agar tidak memainkan harga beras di tengah mulai berkurangnya produksi akibat musim kemarau.
“Mungkin tujuannya untuk menekan harga. Sekarang harga mulai bergejolak karena produksi berkurang akibat musim kemarau,” katanya.
Meski demikian, Ruzuan memastikan stok beras di Sumatera Selatan hingga saat ini masih dalam kondisi aman dan mencukupi kebutuhan masyarakat.
Sementara itu, Kepala Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura (Distan TPH) Sumsel, Bambang Pramono, menilai pernyataan Presiden tidak semata-mata berbicara soal besaran keuntungan, tetapi juga menyoroti dominasi penggilingan padi swasta dalam rantai distribusi beras nasional.
Menurut Bambang, sekitar 85 hingga 90 persen produksi beras nasional saat ini dikuasai penggilingan padi swasta, sedangkan pemerintah hanya mengelola sekitar 10 hingga 15 persen dari total produksi nasional.
“Presiden tentu memiliki data dan informasi terkait hal tersebut. Di Sumsel memang ada beberapa penggilingan padi besar, tetapi skalanya belum seperti yang disampaikan Presiden. Kemungkinan itu terjadi di daerah lain,” ujarnya.
Ia menilai besarnya peran sektor swasta membuat penggilingan padi memiliki posisi strategis dalam menjaga stabilitas harga beras sekaligus meningkatkan kesejahteraan petani.
Karena itu, Bambang berharap perusahaan penggilingan padi memperkuat kemitraan dengan petani dan pemerintah agar tercipta harga yang adil bagi seluruh pihak.
“Penggilingan padi besar diharapkan lebih mengedepankan kerja sama yang baik dengan petani maupun pemerintah dalam menentukan harga pasar,” katanya.
Bambang menambahkan, Indonesia memang termasuk salah satu produsen beras terbesar di dunia, tetapi juga memiliki tingkat konsumsi beras yang sangat tinggi.
Oleh sebab itu, keseimbangan harga dinilai menjadi kunci agar petani memperoleh keuntungan yang layak, sementara masyarakat tetap dapat membeli beras dengan harga terjangkau.
Menurutnya, harga ideal adalah ketika gabah kering panen berada di kisaran Rp6.500 per kilogram, sedangkan harga beras di tingkat konsumen tetap berada pada kisaran Rp12.000 hingga Rp13.000 per kilogram sehingga keseimbangan antara produsen dan konsumen dapat terjaga. (THQ)

