Close Menu
relung.idrelung.id
  • Relung Community
  • Indeks
  • Regional
  • Hukum
  • Politik
  • Bola
  • Bisnis
  • Techno
  • Otomotif
  • Video
  • Liputan Khusus
  • Even
  • Advertorial
  • Karir

Subscribe to Updates

Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

What's Hot

Karhutla Sudah Bikin Malu Bangsa, Asap Indonesia Ganggu Negara Tetangga 

10/10/2026

UIN Raden Fatah Palembang Resmi Buka Prodi Kedokteran, Jadwal Penerimaan Mahasiswa Belum Diumumkan

10/10/2026

Diduga Jadi Sarang Narkoba, Dua Perkampungan di Palembang Digerebek Polisi

10/10/2026
Facebook X (Twitter) Instagram YouTube TikTok
relung.idrelung.id Sunday, 11 October 2026
Facebook X (Twitter) Instagram YouTube TikTok
Login
  • Indeks
  • Regional
  • Politik
  • Hukum
  • Liputan Khusus
  • Bisnis
  • Lifestyle
  • Bola
  • Techno
  • Otomotif
  • Advertorial
  • Video
relung.idrelung.id
Home»Indeks»Regional»Laba Rp2 Triliun Penggilingan Padi Dinilai Tak Masuk Akal, Dua Pejabat Sumsel Buka Suara
Regional

Laba Rp2 Triliun Penggilingan Padi Dinilai Tak Masuk Akal, Dua Pejabat Sumsel Buka Suara

alwiBy alwi30/07/2026
Share Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Reddit Telegram Email
ilustrasi tanaman padi. (Istimewa/Relung)
Share
Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email

RELUNG.ID – Pernyataan Presiden Prabowo Subianto yang menyebut satu penggilingan padi dapat meraup keuntungan hingga Rp2 triliun per bulan saat musim panen memicu beragam tanggapan.

Di Sumatera Selatan, dua pejabat di sektor pangan menilai angka tersebut sulit terjadi jika dihitung berdasarkan mekanisme bisnis penggilingan padi saat ini.

Baca juga :   FORSESDASI Sumsel Usulkan Gaji PPPK Ditanggung APBN, Ini Alasannya

Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Peternakan (DKPP) Sumsel, Ruzuan Efendi, mengatakan keuntungan industri penggilingan padi memang bisa mencapai puluhan hingga ratusan miliar rupiah per bulan, terutama bagi perusahaan yang memiliki banyak pabrik. Namun, menurutnya, laba hingga Rp2 triliun dalam satu bulan tidak realistis.

“Kalau sampai triliunan tidak. Misalnya satu perusahaan menjual 100 ribu ton beras dalam sebulan atau setara 100 juta kilogram. Kalau keuntungan bersihnya Rp1.000 per kilogram, laba yang diperoleh sekitar Rp100 miliar,” kata Ruzuan.

Ia menjelaskan, besarnya keuntungan penggilingan padi dipengaruhi harga pembelian gabah dan rendemen beras yang dihasilkan.

Baca juga :   Targetkan Puluhan Ribu Pengunjung, Festival Perahu Bidar 2025 Resmi Dibuka

Dengan harga gabah sekitar Rp7.500 per kilogram dan rendemen sekitar 50 persen, harga jual beras agar mencapai titik impas berada di kisaran Rp15.000 per kilogram.

“Kalau harga jual beras hanya Rp14.500 sampai Rp14.700 per kilogram, margin keuntungannya tentu tidak sebesar yang dibayangkan,” ujarnya.

Menurut Ruzuan, agar sebuah perusahaan mampu meraih laba Rp1 triliun dalam sebulan dengan volume penjualan 100 juta kilogram, maka keuntungan bersih harus mencapai sekitar Rp10.000 per kilogram.

Baca juga :   Pemprov Sumsel Genjot Strategi Pengentasan Kemiskinan, Target Turun Signifikan di 2025

“Mana mungkin untung Rp10 ribu per kilogram. Itu sangat tidak realistis,” tegasnya.

Ruzuan menyebut Sumatera Selatan memiliki lebih dari 10 perusahaan penggilingan padi berskala besar, di antaranya Buyung, BPR, Wilmar, dan sejumlah perusahaan lain. Meski memiliki kapasitas produksi besar, menurutnya keuntungan yang diperoleh tetap mengikuti mekanisme pasar.

Ia menduga pernyataan Presiden lebih merupakan pesan kepada pelaku usaha agar tidak memainkan harga beras di tengah mulai berkurangnya produksi akibat musim kemarau.

Baca juga :   Truk Pengangkut Gas 3 Kilogram Meledak di Banyuasin, Dua Mobil Terbakar, Delapan Motor Rusak Ringan

“Mungkin tujuannya untuk menekan harga. Sekarang harga mulai bergejolak karena produksi berkurang akibat musim kemarau,” katanya.

Meski demikian, Ruzuan memastikan stok beras di Sumatera Selatan hingga saat ini masih dalam kondisi aman dan mencukupi kebutuhan masyarakat.

Sementara itu, Kepala Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura (Distan TPH) Sumsel, Bambang Pramono, menilai pernyataan Presiden tidak semata-mata berbicara soal besaran keuntungan, tetapi juga menyoroti dominasi penggilingan padi swasta dalam rantai distribusi beras nasional.

Baca juga :   Kerap Banjir, Wakil Walikota Palembang Temukan Sedimantasi Tinggi di Kemang Manis Palembang

Menurut Bambang, sekitar 85 hingga 90 persen produksi beras nasional saat ini dikuasai penggilingan padi swasta, sedangkan pemerintah hanya mengelola sekitar 10 hingga 15 persen dari total produksi nasional.

“Presiden tentu memiliki data dan informasi terkait hal tersebut. Di Sumsel memang ada beberapa penggilingan padi besar, tetapi skalanya belum seperti yang disampaikan Presiden. Kemungkinan itu terjadi di daerah lain,” ujarnya.

Ia menilai besarnya peran sektor swasta membuat penggilingan padi memiliki posisi strategis dalam menjaga stabilitas harga beras sekaligus meningkatkan kesejahteraan petani.

Baca juga :   Rotasi Jabatan Kadis Pemprov Sumsel Tuai Pro dan Kontra, Elen Setiadi: Ini Demi Efisiensi Birokrasi

Karena itu, Bambang berharap perusahaan penggilingan padi memperkuat kemitraan dengan petani dan pemerintah agar tercipta harga yang adil bagi seluruh pihak.

“Penggilingan padi besar diharapkan lebih mengedepankan kerja sama yang baik dengan petani maupun pemerintah dalam menentukan harga pasar,” katanya.

Bambang menambahkan, Indonesia memang termasuk salah satu produsen beras terbesar di dunia, tetapi juga memiliki tingkat konsumsi beras yang sangat tinggi.

Baca juga :   Rentetan Fatality di PT OKI Pulp and Paper Mills, Pekerja Kembali Tewas Usai Terjatuh ke Mesin Penggiling

Oleh sebab itu, keseimbangan harga dinilai menjadi kunci agar petani memperoleh keuntungan yang layak, sementara masyarakat tetap dapat membeli beras dengan harga terjangkau.

Menurutnya, harga ideal adalah ketika gabah kering panen berada di kisaran Rp6.500 per kilogram, sedangkan harga beras di tingkat konsumen tetap berada pada kisaran Rp12.000 hingga Rp13.000 per kilogram sehingga keseimbangan antara produsen dan konsumen dapat terjaga. (THQ)

Dinas Ketahanan Pangan dan Peternakan (DKPP) Sumsel Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura (Distan TPH) Sumsel Padi Pemprov Sumsel Penggilingan Padi
Share. Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
Previous ArticleLurah Paya Pasir Disanksi Usai Viral Ejek Warga yang Mengadu ke Wali Kota Medan
Next Article Polda Metro Jaya Minta Hakim Tolak Gugatan Ganti Rugi Roy Suryo dalam Sidang Praperadilan
alwi

Related Posts

Regional

Karhutla Sudah Bikin Malu Bangsa, Asap Indonesia Ganggu Negara Tetangga 

10/10/20264 Views
Regional

UIN Raden Fatah Palembang Resmi Buka Prodi Kedokteran, Jadwal Penerimaan Mahasiswa Belum Diumumkan

10/10/20265 Views
Regional

Diduga Jadi Sarang Narkoba, Dua Perkampungan di Palembang Digerebek Polisi

10/10/20262 Views
Add A Comment

Leave A Reply Cancel Reply

Demo
Top Posts

Olahraga Berbahaya! Ini Manfaat Parkour untuk Kesehatan Tubuh

09/10/202328,871 Views

Hukum dan Keutamaan Puasa Syawal

11/04/202428,744 Views

Daerah Kelimpungan Hadapi Pemangkasan TKD, Menkeu Purbaya Tegaskan Disiplin Fiskal Tak Bisa Dilanggar

08/10/202522,717 Views

Keajaiban Tersembunyi di Talang Sarang Bulan: Curup Ayek Bayau

21/07/20244,403 Views

Tabrak Ambulans Bawa Pasien, Kuasa Hukum RSUD Bayung Lencir Soroti Pemilik Truk Tangki

02/06/20251,359 Views
Stay In Touch
  • Facebook
  • YouTube
  • TikTok
  • WhatsApp
  • Twitter
  • Instagram

Subscribe to Updates

Get the latest tech news from FooBar about tech, design and biz.

Demo
Facebook X (Twitter) Instagram YouTube TikTok
  • Tentang Kami
  • Info Kontak
  • Info Kerjasama
  • Karir
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy & Policy
© 2026

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

Sign In or Register

Welcome Back!

Login to your account below.

Lost password?