RELUNG.ID – Sumatera Selatan (Sumsel) memiliki potensi besar untuk mendukung target swasembada daging nasional melalui pengembangan populasi ternak di sejumlah daerah.
Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sumsel menilai sedikitnya lima daerah memiliki karakteristik yang mendukung pengembangan peternakan, yakni Ogan Komering Ilir (OKI), OKU Timur, Banyuasin, Lubuklinggau, dan Muara Enim.
Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Peternakan (DKPP) Sumsel, Ruzuan Efendi, mengatakan penguatan sektor peternakan ke depan tidak cukup hanya mengandalkan penggemukan sapi.
Penambahan populasi melalui program breeding atau pembiakan menjadi salah satu strategi utama untuk menciptakan sumber ternak secara berkelanjutan.
“Indonesia bisa, Sumsel bisa. Karena Sumsel salah satu provinsi yang bisa mendukung program swasembada daging,” Kamis (20/8/2026).
Menurut Ruzuan, kebutuhan daging di Sumsel selama ini relatif masih dapat dipenuhi. Namun, tantangan yang dihadapi adalah ketersediaan populasi ternak untuk memenuhi kebutuhan secara berkelanjutan.
Selama ini, penggemukan sapi di Sumsel masih banyak bergantung pada pasokan dari luar daerah maupun ternak impor. Lampung, misalnya, menjadi salah satu daerah dengan populasi ternak besar yang memasok sapi untuk kebutuhan penggemukan sebelum dipasarkan ke berbagai wilayah, termasuk Sumsel.
“Kalau dalam arti penggemukan kita ingin ternak kita berasal dari kita, bukan impor. Bisakah kita menghasilkan itu dengan populasi? Kita belum bisa saat ini, semuanya masih harus didatangkan,” katanya.
Ruzuan mengatakan OKI, OKU Timur, Banyuasin, Lubuklinggau dan Muara Enim dinilai memiliki potensi untuk dikembangkan sebagai sentra peternakan.
Pengembangan kawasan tersebut diarahkan untuk memperkuat populasi ternak melalui program breeding. Dengan demikian, daerah tidak hanya menghasilkan sapi siap potong, tetapi juga memiliki indukan dan bibit ternak yang dapat dikembangkan secara berkelanjutan.
Program pembiakan dapat dilakukan melalui sejumlah metode, mulai dari perkawinan alami, inseminasi buatan hingga teknologi transfer embrio.
Penggunaan bibit unggul diharapkan mampu mempercepat pertumbuhan populasi sekaligus meningkatkan kualitas ternak yang dikembangkan di Sumsel.
“Apa yang disampaikan Pak Prabowo itu untuk lima tahun ke depan, dengan penambahan populasi dalam arti breeding, bukan penggemukan,” jelasnya.
Jika dikembangkan secara optimal, sentra peternakan di lima daerah tersebut tidak hanya ditargetkan memenuhi kebutuhan daging masyarakat Sumsel. Populasi ternak yang dihasilkan juga berpotensi menjadi sumber pasokan bagi daerah lain.
Selain sapi, Sumsel juga memiliki komoditas ternak lain yang berpotensi mendukung ketahanan pangan, salah satunya kerbau rawa.
Banyuasin menjadi salah satu wilayah yang memiliki ekosistem kerbau rawa yang masih berkembang, khususnya di kawasan Pampangan dan Rambutan.
“Kita ada ekosistem kerbau rawa di Banyuasin yang berkembang, apalagi di Pampangan dan Rambutan. Secara populasi terus bertambah,” kata Ruzuan.
Potensi kerbau rawa tersebut tidak hanya akan dikembangkan untuk produksi daging. DKPP Sumsel juga berencana meningkatkan pemanfaatannya untuk produksi susu kerbau.
Saat ini, produksi susu kerbau disebut masih berada di kisaran satu liter per ekor per hari. Pemerintah menilai angka tersebut masih dapat ditingkatkan melalui perbaikan bibit, pemeliharaan dan pola produksi.
“Kita berharap bisa lima liter sampai 15 liter. Produksi susu kerbau ini akan kita kembangkan secara perlahan,” pungkasnya. (THQ)

