RELUNG.ID – Gagasan membangun PLTS Atap di perumahan subsidi di Sumatera Selatan muncul untuk mewujudkan energi bersih dan juga mendorong transisi energi.
Mengingat masifnya pembangunan rumah subsidi di Kota Palembang setiap tahunnya.
Berdasarkan data Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman Sumatera Selatan, kuota Backlog di Sumsel tahun 2026 ini sebanyak 1.105.185 unit dengan rincian, 347.091 unit Backlog Kepemilikian dan 758.094 Backlog Kualitas.

Untuk kuota backlog terbanyak yaitu di Kota Palembang yaitu sebanyak 206.073 unit. Kemudian, disusul Banyuasin dengan kuota 140.345 unit.
Ketiga yaitu, Ogan Komering Ilir (OKI) sebanyak 112.801 unit. Lalu, Musi Banyuasin (Muba) sebanyak 99.630 unit. Terakhir Muara Enim sebanyak 77.497.
“Bayangkan jika setiap rumah subsidi dipasang PLTS atap ini,” kata Ketua Sumsel Bersih, Boni Bangun.
Dia mengatakan, potensi PLTS ini sangat baik karena paparan sinar matahari yang cukup panas di wilayah Indonesia salah satunya di Sumsel . Hal ini terbukti dengan adanya rencana pengembangan pembangunan PLTS berkapasitas 100 GW.
Yang menjadi tantangan yaitu ketersediaan lahan. Menurutnya, salah satu solusi yaitu pemasangan PLTS atap di perumahan subsidi untuk mencapai kapasitas 100 GW tersebut.
Ketua Sumsel Bersih ini mencontohkan jika di Sumsel saja kuota perumahan subsidi sekitar 1,1 juta unit, Sedangkan, kebutuhan listrik diperumahan subsidi berkisar 1.000 watt hingga 1.500 watt maka potensi PLTS mampu mencapai 1.100 MW di Sumsel.
Penggunaan PLTS biasanya optimal disiang hari, sedangkan penggunannya tentu tidak sampai 1.000 watt hanya berkisar 500 sampai 700 watt. Artinya, PLN masih bisa saving daya sekitar 800 watt dari setiap rumah.
Jika 800 watt tersebut dikalikan 1,1 juta rumah subsidi maka PLN bisa menyimpan daya berkisar 880 MW setiap harinya.
“Itu baru skala Sumsel belum di wilayah Indonesia lainnya,” jelasnya.
Memang kebutuhan investasi PLTS Atap cukup besar di awal. Karena itu, investasi PLTS 100 GW ini dapat dialihkan sebagai subsidi kepada developer untuk memasang PLTS atap di perumahan subsidi.
Pemasangan ini tentunya harus berdasarkan kajian per kecamatan yang lebih optimal mendapatkan radiasi matahari sehingga PLTS dapat berfungsi optimal.
“Mungkin dengan PLTS atap mampu mewujudkan PLTS berkapasitas 100 GW,” harapnya.
Pengembangan PLTS atap ini tentunya mendapat dukungan dari PLN. Namun, koordinasi harus dilakukan sejak awal tahap perencanaan. Sehingga jumlah rumah, daya tersambung, kapasitas PLTS atap, kebutuhan jaringan, gardu, dan pola beban kawasan dapat dikaji bersama.

“Dengan perencanaan yang baik, perumahan ramah lingkungan dapat tumbuh sebagai bagian dari ekosistem kelistrikan yang aman, efisien, andal, dan berkelanjutan,” kata General Manager PT PLN (Persero) Unit Induk Distribusi Sumatera Selatan Jambi dan Bengkulu (UID S2JB), Diksi Erfani Umar.
Dia menjelaskan, untuk PLTS atap, mekanismenya berdasarkan Peraturan Menteri ESDM Nomor 2 Tahun 2024. Dimana, energi yang dihasilkan PLTS atap pada prinsipnya dimanfaatkan terlebih dahulu untuk memenuhi kebutuhan listrik pelanggan sendiri.
Ketika produksi PLTS atap lebih kecil dari pada kebutuhan rumah atau bangunan, kekurangannya tetap dipenuhi dari jaringan PLN.
Sebaliknya, apabila terdapat kelebihan energi yang mengalir ke jaringan, kelebihan tersebut tidak diperhitungkan sebagai pengurang tagihan listrik.
“Jadi skema PLTS atap yang berlaku saat ini bukan skema jual beli listrik antara pelanggan dan PLN,” terangnya.
Menurutnya, produksi listrik tenaga surya dapat berubah mengikuti intensitas cahaya matahari, sementara sistem harus tetap menjaga tegangan, frekuensi, dan kontinuitas pasokan bagi seluruh pelanggan.
Karena itu, untuk kawasan perumahan ramah lingkungan, manfaat PLTS atap akan lebih optimal apabila kapasitasnya dirancang berdasarkan pola penggunaan listrik pada siang hari.
“Penggunaan peralatan hemat energi dan pengaturan waktu pemakaian listrik dapat meningkatkan pemanfaatan energi surya secara langsung,” ujarnya.
Saat ini, PLN secara korporat juga mengembangkan pemanfaatan Battery Energy Storage System atau BESS. Teknologi ini dapat membantu menyimpan energi ketika produksi pembangkit EBT sedang tinggi dan menyalurkannya kembali ketika diperlukan.
“Kehadiran BESS menjadi penting untuk mendukung kestabilan sistem seiring meningkatnya pembangkit yang produksinya dipengaruhi cuaca,” terangnya.
Berdasarkan data operasi Juni 2026, porsi energi baru terbarukan dalam komposisi daya mampu pasok pembangkit di Sumatera Selatan sekitar 4,77 persen dari pasokan listrik berbahan bakar fosil sebesar 2.940,5 MW.

Angka ini menunjukkan perbandingan daya mampu pasok pembangkit EBT terhadap keseluruhan daya mampu pasok pembangkit.
Pembangkit EBT yang beroperasi terdiri atas tiga unit Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi dengan total daya mampu pasok 126,2 MW, tiga unit Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro dengan total daya mampu pasok 19,4MW, serta satu unit Pembangkit Listrik Tenaga Surya dengan daya mampu pasok 2 MW.
Sehingga secara keseluruhan, pembangkit berbasis EBT tersebut memiliki total daya mampu pasok 147,6 MW.
“Dari data tersebut menunjukkan bahwa Sumatera Selatan masih memiliki ruang yang besar untuk meningkatkan pemanfaatan energi terbarukan mulai dari potensi panas bumi, tenaga air dan energi surya yang dapat dikembangkan secara bertahap sesuai dengan perencanaan kelistrik,” katanya.
Dalam fokus operasi jangka pendek 2025-2027, pihaknya bakal mengoperasikan Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Lumut Balai Unit 2 berkapasitas 55 MW.
Menurutnya, pembangkit panas bumi memiliki peran strategis karena menghasilkan listrik rendah emisi dan dapat beroperasi secara relatif stabil, tidak bergantung pada perubahan cuaca seperti pembangkit tenaga surya.
Meski demikian, dalam perencanaan pengembangan sistem juga terdapat potensi PLTS atap di Palembang sekitar 17,7 MW dan PLTM Kenali sekitar 3,6 MW.
“Pelaksanaannya tetap mengikuti tahapan perencanaan, studi kelayakan, pengadaan, perizinan, serta ketentuan dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik atau RUPTL,” tutupnya. (Alwi Alim)
*Liputan ini didukung oleh Yayasan Indonesia Cerah dan AJI Palembang.

![Liputan Khusus: Potensi PLTS Atap di Rumah Subsidi Sumsel Capai 1.100 MW [Bagian Ketiga]](https://relung.id/wp-content/uploads/2025/06/PHOTO-2025-05-31-12-04-15-1024x682.jpg)