RELUNG.ID – Fenomena tawuran antar kelompok remaja di Kota Palembang kian meresahkan. Tidak hanya mengancam keselamatan pelaku, aksi ini juga membahayakan masyarakat sekitar.
Terbaru, sejumlah remaja terlihat membawa senjata tajam di Simpang Jalan Rajawali Palembang, Senin (27/1/2025), sekitar pukul 04.05 WIB. Keberadaan mereka terekam CCTV Command Center Polda Sumsel dan videonya tersebar di media sosial. Kelompok remaja ini diyakini hendak melakukan tawuran antar kelompok.
Ini bukan kali pertama tawuran terjadi di Palembang. Dalam bulan ini saja, tercatat sudah tiga kali peristiwa serupa terjadi, yaitu di Simpang Rajawali, kawasan Tugu KB (3/1/2025), dan Jalan Wali Kota H Husni dekat Jembatan Musi 6 (17/1/2025). Tawuran-tawuran ini melibatkan puluhan remaja yang saling serang dengan berbagai senjata, mulai dari kayu hingga senjata tajam.
Selain itu, balap liar juga semakin masif terjadi, terutama di Jalan Soekarno Hatta. Para remaja ini bahkan tak gentar mengadu kecepatan di tengah lalu lintas kendaraan berat. Pantauan terakhir, Minggu (18/1/2025) malam, menunjukkan belasan motor beradu cepat meski dalam kondisi berbahaya.
Waktu Luang Jadi Pemicu Tawuran
Menurut Kasi Humas Polrestabes Palembang, Kompol Evial Kalza, aksi tawuran dan balap liar cenderung meningkat menjelang libur sekolah. “Waktu luang yang tidak terisi dengan kegiatan positif membuat mereka cenderung melakukan aktivitas yang menjurus pada kenakalan,” ujar Evial.
Untuk mengantisipasi hal ini, Polrestabes Palembang meningkatkan patroli rutin, terutama di lokasi rawan. “Kami akan lebih intens melakukan patroli di bulan puasa nanti, terutama di titik-titik rawan tawuran,” tegasnya. Selain patroli, pihak kepolisian juga mengadakan penyuluhan ke sekolah-sekolah yang dianggap rawan.
Kurangnya pengawasan orang tua menjadi salah satu tantangan besar dalam menangani fenomena ini. “Ada orang tua yang menganggap tawuran sebagai hal biasa. Ini harus diubah,” ungkap Kompol Evial. Ia berharap kesadaran masyarakat, khususnya orang tua, semakin meningkat.
Di sisi lain, Plt Kepala Dinas Pendidikan Sumsel, Awaluddin, menegaskan pentingnya pengelolaan waktu siswa selama bulan Ramadan. “Kami sudah menginstruksikan sekolah untuk menjalankan pembelajaran selama Ramadan, termasuk kegiatan ekstrakurikuler seperti pesantren kilat dan tadarusan,” jelasnya.
Model pembelajaran selama Ramadan akan disesuaikan dengan waktu. Durasi jam pelajaran dikurangi, dan materi pembelajaran diarahkan pada peningkatan ketakwaan dan nilai-nilai positif. “Tujuannya jelas, mengurangi aktivitas negatif yang kerap terjadi di luar jam sekolah,” tambah Awaluddin.
Sekolah dan Orang Tua Punya Peran Penting
Direktur Pusat Studi Kebijakan dan Politik (PSKP), Ade Indra Chaniago mengatakan, tidak ada hubungan langsung antara Ramadan dan tawuran pelajar. Namun, banyaknya waktu luang selama bulan suci itu menjadi pemicu utama.
“Tentu banyak faktor yang menyebabkan tawuran pelajar. Tapi mengapa lebih sering terjadi di bulan Ramadan? Karena momen ini memberikan banyak waktu luang, sehingga pelajar mudah terpancing dan tergerak mengarah pada kegiatan negatif,” ujar Ade, Senin (27/1).
Ia menjelaskan, pihak Dinas Pendidikan dan instansi terkait seharusnya sudah mengarahkan pelajar pada kegiatan positif untuk membatasi ruang gerak mereka. Dengan begitu, waktu luang yang ada dapat diisi dengan hal-hal bermanfaat khususnya pada momen libur ramadan.
“Meskipun libur, sekolah seharusnya menyediakan fasilitas untuk siswa berkreasi. Ini penting agar waktu mereka tidak terbuang sia-sia dan dapat diisi dengan kegiatan yang membangun, dengan demikian ruang kosong tersebut tidak hampa. Inilah yang seharunya jadi tugas sekolah,” tegasnya.
Ade juga menyoroti pentingnya peran keluarga, tokoh agama, dan aparat keamanan dalam memberikan edukasi selama Ramadan. Menurutnya, peran orang tua sangat penting untuk mengontrol aktivitas anak-anak mereka melalui komunikasi yang baik.
“Akarnya ada di keluarga dan lingkungan sekitar mereka. Itulah pentingnya orang tua mengambil peran aktif dalam menjaga anak-anaknya agar terhindar dari kegiatan yang merugikan,” pungkasnya. (TIM)

