RELUNG.ID– Penolakan terhadap rencana kedatangan Agam ke Gunung Rinjani bersama konten kreator Panji Petualang ternyata bukan semata-mata terkait pembuatan konten. Forum Wisata Lingkar Rinjani menyebut penolakan tersebut dipicu persoalan donasi penyelamatan Juliana Marins pada 2025 yang dinilai hingga kini belum tuntas.
Ketua Forum Wisata Lingkar Rinjani, Royal Sembahulun, mengatakan dana donasi tersebut semestinya digunakan untuk mendukung kebutuhan operasi penyelamatan, termasuk membantu relawan, porter, serta biaya peralatan yang digunakan selama proses evakuasi.
“Ada banyak janji dan utang yang belum diselesaikan, terutama yang berkaitan dengan donasi Juliana. Jangan sampai kedatangannya ke Rinjani justru menjadi ajang pencitraan di tengah masalah yang belum tuntas,” ujar Royal, dikutip dari TribunJakarta.com, Minggu (28/6/2026).
Selain persoalan donasi, Forum Wisata Lingkar Rinjani juga menolak penyematan julukan “Pawang Rinjani” kepada Agam. Menurut mereka, gelar tersebut merupakan bagian dari nilai budaya masyarakat setempat dan tidak dapat disematkan secara sembarangan.
Tokoh adat Sembalun, Mertawi, menjelaskan bahwa gelar Pawang Rinjani hanya dapat diberikan melalui musyawarah masyarakat adat di kawasan lingkar Gunung Rinjani.
“Menurut tradisi kita, khususnya yang tinggal di lingkar Rinjani, tidak semudah itu untuk menyebut diri sebagai Pawang Rinjani,” katanya.
Ia menambahkan, sejak dahulu gelar tersebut diberikan kepada sosok yang memiliki tanggung jawab adat, moral, dan spiritual terhadap Gunung Rinjani beserta masyarakat di sekitarnya. Karena itu, ia berharap siapa pun tidak menggunakan atau menyematkan gelar tersebut tanpa melalui mekanisme adat yang berlaku.
Sebelumnya, Agam berencana mendaki Gunung Rinjani bersama Panji Petualang untuk mengenang satu tahun proses evakuasi Juliana Marins, wisatawan yang meninggal dunia setelah terjatuh ke jurang Gunung Rinjani pada Juni 2025.
Namun, rencana tersebut memicu penolakan dari Forum Wisata Lingkar Rinjani.
Menanggapi polemik yang berkembang, Panji Petualang akhirnya menyampaikan permohonan maaf secara terbuka kepada masyarakat Lombok, khususnya Suku Sasak dan para pelaku wisata di kawasan Gunung Rinjani.
“Mohon maaf yang seluas-luasnya untuk semua keluargaku di Lombok. Khususnya untuk semua pihak yang tersinggung atau tersakiti karena postingan ku,” tulis Panji melalui akun Instagramnya.
Panji mengaku awalnya tidak mengetahui adanya persoalan lama antara Agam dengan sejumlah relawan dan komunitas di kawasan Rinjani. Ia mengatakan rencana membuat konten muncul setelah bertemu Agam di Jakarta untuk membahas momen satu tahun proses penyelamatan Juliana Marins.
Namun setelah unggahannya dipublikasikan, Panji baru mengetahui masih adanya persoalan yang belum selesai. Ia juga mengakui kesalahan karena mencantumkan istilah “Pawang Gunung Rinjani” dalam unggahannya.
“Khususnya untuk masalah caption-ku terkait Pawang Gunung Rinjani, itu memang salah,” ujarnya.[YKP]

