RELUNG.ID – Imbas perang Amerika Serikat, Israel dengan Iran membuat harga kedelai yang merupakan bahan baku untuk membuat tahu dan tempe alami kenaikan.
Kenaikan itu membuat perajin tahu dan tempe di kota Lubuklinggau, Sumatera Selatan harus putar otak agar produksi mereka tetap bertahan.
Salah satunya diungkapkan Ali, perajin tahu di Jalan Karya II, RT 09, Kelurahan Cereme Taba, Kecamatan Lubuklinggau Timur II.
“Jadi saat ini kan naik (kedelai) karena dampak dari perang Timur Tengah. Untuk kedelai kan kita impor dari Amerika, jadi mempengaruhi juga itu,” kata Ali pada Rabu, (8/4/2026)
Selain itu dengan kenaikan harga kedelai saat ini diakuinya cukup berdampak dengan usaha tahu yang dijalaninya.
Namun saat ini untuk harga tahu masih stabil perpotong Rp 300,.
“Masih harga normal Rp 300 per potong, belum ada kenaikan. Mungkin jika ada kenaikan lagi untuk harga kedelainya, mungkin bisa naik atau mungkin ukurannya dikecilkan,” ujarnya.
Lebih lanjut, dalam perhari usaha tahu yang dikelolanya memproduksi ribuan tahu dengan menyediakan antara 300 sampai 400 Kg kedelai.
Sementara itu Azizi, pengusaha kedelai di Jalan Karya II, Kelurahan Cereme Taba, Kecamatan Lubuklinggau Timur II mengatakan saat ini harga kedelai Rp11.100 perkilo. Sebelumnya harga kedelai masih normal Rp 10.800.
“Sekarang sudah tiga kali naik. Perminggu kita datang sampai 20 ton kedelai,” jelasnya.
Ia memperkirakan harga kedelai ada kemungkinan akan kembali alami kenaikan imbas dari perang Amerika, Israel dengan Iran.
“Karena naik terus harganya, sementara harga tahu tidak bisa naik. Paling mereka (perajin) mengakalinya mungkin ukuran tahunya menjadi kecil,” pungkasnya. (NSR)

