RELUNG.ID – Produsen mobil asal Tiongkok, Chery, mengumumkan terobosan besar dalam teknologi kendaraan listrik dengan memperkenalkan prototipe baterai solid-state pertama yang dikembangkan sendiri.
Dalam acara perusahaan di Wuhu, Chery mengklaim baterai ini memiliki kepadatan energi sel mencapai 600 Wh/kg, yang diklaim mampu memberikan jangkauan hingga 1.300 km dalam kondisi nyata.
Menurut Chery, jangkauan teoritis baterai tersebut bahkan dapat melampaui 1.500 kilometer cukup untuk menempuh perjalanan Los Angeles, San Francisco pulang-pergi hanya dengan sekali pengisian daya.
Selain performa tinggi, perusahaan juga menekankan keamanan sebagai keunggulan utama. Baterai solid-state ini dilaporkan tetap stabil tanpa terbakar atau berasap, bahkan setelah diuji dengan tusukan paku dan bor listrik.
Teknologi baru ini dikembangkan oleh Chery Solid-State Battery Research Institute. Baterai tersebut menggunakan sistem elektrolit padat terpolimerisasi in-situ serta katoda mangan kaya litium.
Chery menargetkan uji coba percontohan pada tahun 2026 dan peluncuran komersial pada 2027, bertepatan dengan target serupa dari pesaing domestiknya, BYD dan CATL.
Secara global, industri otomotif tengah berlomba mengomersialkan baterai solid-state, yang digadang-gadang lebih aman, efisien, dan memiliki waktu pengisian lebih cepat dibandingkan baterai litium-ion konvensional.
Lembaga riset EVTank memprediksi pengiriman baterai solid-state global akan mencapai 614 GWh pada 2030, setara lebih dari 10 persen pangsa pasar baterai dunia dengan nilai lebih dari €29 miliar.
Kinerja bisnis Chery sendiri menunjukkan tren positif. Pada September 2025, perusahaan mencatat ekspor 137.624 kendaraan, naik 26,2 persen dibandingkan tahun sebelumnya, menandai bulan kelima berturut-turut dengan ekspor di atas 100.000 unit.
Pada paruh pertama 2025, pendapatan Chery mencapai €16,65 miliar, tumbuh 26,3 persen. Setelah IPO besar di Hong Kong, Chery mengalokasikan 35 persen dana untuk riset kendaraan dan 25 persen untuk teknologi generasi mendatang, menjadikan proyek baterai solid-state sebagai prioritas strategis.
Namun, tantangan terbesar masih ada pada biaya produksi. Saat ini, baterai solid-state diperkirakan 2,8 kali lebih mahal daripada baterai elektrolit cair biasa, disebabkan oleh bahan baku mahal dan tingkat hasil produksi rendah.
Meski sejumlah lembaga riset seperti Universitas Tsinghua juga telah memamerkan sel baterai berkepadatan tinggi (604 Wh/kg), belum ada pihak yang berhasil menekan biaya secara signifikan untuk produksi massal. (LWM)

