RELUNG.ID- Momen pertemuan antara Denada dan putra kandungnya, Ressa Rizky Rossano, setelah 24 tahun berpisah menyimpan cerita emosional yang mendalam. Pertemuan yang berlangsung menjelang hingga saat Lebaran 2026 itu dilakukan secara intim—tanpa kehadiran pengacara.
Menurut manajer Denada, Risna Ories, keputusan tersebut memang diambil atas permintaan Ressa yang ingin momen pertemuan berlangsung lebih personal.
“Ressa meminta tidak ada media maupun pengacara karena dia hanya ingin pertemuan yang intim dengan ibunya,” ujar Risna.
Alih-alih pengacara, pertemuan tersebut justru didampingi oleh seorang psikolog. Langkah ini diambil untuk membantu kedua belah pihak mengelola emosi setelah puluhan tahun terpisah.
Risna menjelaskan, baik Denada maupun Ressa tentu menyimpan banyak perasaan yang terpendam selama ini, sehingga kehadiran psikolog dinilai penting agar proses komunikasi berjalan lebih baik.
“Selama itu pasti banyak rasa yang berkecamuk, jadi butuh pendampingan supaya semuanya bisa mengalir dengan baik,” jelasnya.
Pertemuan ibu dan anak ini berlangsung dalam suasana emosional. Keduanya disebut saling meluapkan perasaan yang selama ini terpendam.
“Dikit-dikit nangis, saling peluk, saling melihat. Tapi alhamdulillah mereka bahagia,” ungkap Risna.
Denada pun disebut merasa sangat lega setelah akhirnya bisa bertemu langsung dengan Ressa. Beban yang selama ini dipendam selama puluhan tahun perlahan terlepas dalam pertemuan tersebut.
Sebelumnya, konflik keduanya sempat mencuat setelah Ressa menggugat Denada ke Pengadilan Negeri Banyuwangi pada November 2025 terkait dugaan penelantaran anak, dengan tuntutan Rp7 miliar.
Namun, setelah dua kali pertemuan di momen Ramadan dan Idul Fitri, keduanya sepakat berdamai. Ressa bahkan menyatakan kesiapannya untuk mencabut gugatan tersebut.
Ressa diketahui telah diasuh sejak bayi oleh paman dan bibi Denada di Banyuwangi, yakni Dino Rossano Hansa dan Ratih Puspita Dewi.
Kini, hubungan Denada dan Ressa perlahan membaik. Pertemuan yang awalnya penuh air mata itu menjadi titik awal rekonsiliasi dan membuka lembaran baru dalam hubungan keduanya.
Momen ini tak hanya menjadi kisah haru, tetapi juga gambaran bahwa komunikasi dan pendekatan emosional dapat menjadi jalan keluar dalam konflik keluarga yang panjang.[YKP]

