RELUNG.ID – Angkutan baru bara yang kerap melintas di jalan umum secara terus menerus khususnya di Muara Enim, berujung pada ambruknya jembatan Muara Lawai di Kecamatan Merapi Timur, Kabupaten Lahat, Minggu malam (29/5/2025).
Hal ini menuai keluhan warga khususnya di Desa Muara Lawai, karena menyebabkan kemacetan parah dan menganggu distribusi logistik dan bahan bakar, bahkan mengancam keselamatan masyarakat.
“Macet sejak subuh tadi. Angkutan batu bara penuh muatan parkir di badan jalan, susah mau lewat. Saya hendak beli sarapan saja harus putar balik,” kata Rasyid (32), warga Muara Enim yang setiap hari melintas di Jalan SMB II, Senin (30/6/2025).
Menurutnya, kondisi ini tidak bisa terus dibiarkan. Ia berharap pemerintah dan aparat segera menertibkan kendaraan-kendaraan besar yang selama ini bebas melintas dan parkir sembarangan.
“Kalau bisa jangan lagi angkutan batu bara lewat jalan umum. Cari solusi lain. Selain bikin jalan rusak, juga bikin hidup warga jadi susah,” tegasnya.
Senada dengan Rasyid, Hendri (41), warga Merapi Timur yang tinggal tak jauh dari lokasi jembatan, menyebut ambruknya jembatan bukan hal mengejutkan. Ia menilai daya tahan infrastruktur tidak sebanding dengan volume dan beban kendaraan tambang yang melintas setiap hari.
“Sejak dulu sudah dikeluhkan warga. Jalan umum bukan untuk kendaraan berat berton-ton. Tapi tidak ada tindakan tegas. Sekarang sudah kejadian, baru heboh,” ujarnya.
Sementara, Bagian Kesra Pemdes Muara Lawai, Hidayatullah mengatakan, peristiwa ambruknya jembatan sebenarnya sudah lama diprediksi lantaran usianya yang sudah cukup tua. Di sisi lain, jembatan tersebut terus dilintasi angkutan batu bara bertonase besar.
“Usianya sudah tua dan terus dilintasi truk-truk besar. Makanya kan dibuat jembatan baru untuk mengurangi beban,” ungkapnya.
Dijelaskannya, saat melintas, biasanya truk batu bara akan melintasi jembatan satu per satu. Namun, pada saat kejadian, ada empat truk berhimpitan dan memakan penuh badan jalan.
“Itu ada empat truk di tengah dengan tonase total sekitar 160 ton. Biasanya kan satu-satu gantian mereka ini melintas. Mungkin itu yang jadi pemicunya,” ungkap Hidayatullah.
Sebelumnya, Jembatan Muara Lawai di Kecamatan Merapi Timur, Kabupaten Lahat, ambruk pada Minggu malam (29/6/2025) sekitar pukul 23.14 WIB.
Empat dump truk, tiga di antaranya bermuatan batubara terjebak di atas jembatan saat kejadian.
Hingga Senin pagi (30/6/2025), truk-truk tersebut masih berada di atas jembatan yang ambruk dan nyaris jatuh ke sungai.
Polisi telah memasang garis pembatas dan melarang warga mendekat ke lokasi untuk alasan keselamatan.
“Semua kendaraan dari arah Lahat ke Muara Enim dan sebaliknya, termasuk angkutan barang dan bus AKAP, terpaksa berhenti total, bahkan ada yang memutar jauh lewat Pagaralam,” kata Kapolsek Merapi Timur, IPTU Hendri, di lokasi kejadian.
Akibat kejadian ini, arus lalu lintas dari arah Muara Enim menuju Lahat maupun sebaliknya dialihkan ke jembatan alternatif di sebelahnya.
Keempat truk yang jatuh saat jembatan ambruk diketahui mengangkut barang logistik dari arah Muaraenim ke Lahat. Belum ada keterangan resmi mengenai kondisi para sopir, namun petugas medis telah disiagakan di lokasi sejak semalam.
Dari pantauan di bawah jembatan terdapat rel aktif yang digunakan untuk jalur kereta api barang dan penumpang. Dari pantauan lapangan, beberapa bagian rangka jembatan menimpa rel, yang berpotensi besar mengganggu jadwal operasional kereta api di jalur ini. (KPB)

