RELUNG.ID – Peta politik menuju Pemilihan Gubernur (Pilgub) Sumatera Selatan 2031 mulai bergerak.
Sejumlah nama mulai diperbincangkan dan diprediksi masuk dalam bursa kandidat, meski tahapan kontestasi masih cukup panjang.
Salah satu nama yang mulai mendapat dorongan adalah Ketua DPW Partai Amanat Nasional (PAN) Sumsel, Joncik Muhammad.
Dukungan terhadap mantan kepala daerah asal Besemah itu mencuat dalam sejumlah agenda konsolidasi PAN di berbagai daerah.
Dalam dua pekan terakhir, pelantikan pengurus Dewan Pimpinan Cabang (DPC) PAN dan relawan di sejumlah wilayah Sumsel diwarnai yel-yel yang mendorong Joncik maju sebagai calon gubernur.
Fenomena tersebut dinilai menjadi sinyal awal adanya dorongan dari akar rumput. Dukungan tidak hanya datang dari struktur partai, tetapi juga kader, relawan dan simpatisan yang mengikuti agenda konsolidasi.
Pengamat politik Sumatera Selatan, Bagindo Togar, menilai munculnya nama Joncik dalam bursa Pilgub Sumsel merupakan hal yang wajar.
Menurutnya, Joncik memiliki sejumlah modal yang membuatnya layak diperhitungkan dalam kontestasi tingkat provinsi.
“Saya kira wajar saja kalau dia diusung maju dalam kontestasi Pilkada mendatang. Bahkan dia juga salah satu kandidat yang patut diperhitungkan,” ujar Bagindo.
Menurut Bagindo, salah satu kekuatan Joncik adalah pengalaman yang cukup lengkap. Joncik memiliki pengalaman sebagai kepala daerah, birokrat, politisi hingga aktivis.
Bekal tersebut dinilai penting untuk menghadapi kontestasi Pilgub yang tidak hanya membutuhkan popularitas, tetapi juga pemahaman terhadap pemerintahan, birokrasi dan persoalan masyarakat di daerah.
“Joncik memiliki pengalaman dalam menjalankan pemerintahan dan memahami langsung persoalan birokrasi serta pelayanan publik. Di samping itu, Joncik juga dikenal sebagai politisi yang aktif membangun komunikasi dengan berbagai kelompok,” katanya.
Selain pengalaman pemerintahan dan politik, Joncik juga memiliki jejaring organisasi yang dinilai cukup kuat. Pengalamannya di Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) serta Keluarga Alumni Universitas Gadjah Mada (Kagama) menjadi bagian dari modal sosial yang dapat dikembangkan.
Bagindo menilai jaringan tersebut akan menjadi kekuatan apabila mampu dikonsolidasikan secara efektif. Terlebih, Pilgub Sumsel membutuhkan jaringan politik dan sosial yang luas untuk menjangkau masyarakat di seluruh wilayah.
Latar belakang akademik Joncik juga menjadi perhatian. Ia memiliki gelar doktor dari Fakultas Hukum Universitas Islam Sultan Agung (Unissula) Semarang.
“Modal intelektualitas tak kalah penting yang harus dimiliki kandidat. Tentunya Joncik ini sudah sangat lengkap pengalamannya, baik legislatif maupun pemerintahan,” ujar Bagindo.
Dengan kombinasi pengalaman birokrasi, politik, aktivisme, jaringan organisasi dan latar belakang akademik tersebut, Joncik dinilai memiliki modal awal yang cukup kuat untuk masuk dalam bursa Pilgub Sumsel 2031.
Namun, modal politik tersebut belum otomatis menjamin kemenangan. Joncik masih harus membuktikan kekuatan elektoralnya, termasuk popularitas, elektabilitas, kemampuan membangun koalisi serta tingkat penerimaan masyarakat di seluruh wilayah Sumsel.
Di sisi lain, persaingan menuju Pilgub Sumsel 2031 diperkirakan tidak hanya diisi Joncik. Sejumlah tokoh politik lain mulai memiliki posisi strategis untuk membangun kendaraan politik.
Salah satunya Ketua DPRD Sumsel sekaligus Ketua DPD Partai Golkar Sumsel, Andie Dinialdie. Bagindo menilai posisi Andie sebagai pimpinan partai menjadi modal penting untuk masuk dalam persaingan.
“Partai Golkar merupakan partai yang paling berpengalaman dan bisa menjadi tolok ukur di Sumsel. Sudah seharusnya dia maju dalam kontestasi Pilgub mendatang,” kata Bagindo.
Meski demikian, Bagindo menilai Andie masih membutuhkan pembuktian lebih jauh dari sisi rekam jejak dan pengalaman dibandingkan sejumlah kandidat lainnya.
“Modal utamanya itu karena dia Ketua Golkar. Namun, kita tahu ke depannya dinamika politik ini cepat sekali berubah. Inilah yang harus dicermati para kandidat nanti,” ujarnya. (YSF)

