RELUNG.ID – Sumatera Selatan diterpa 101 kejadian bencana sepanjang 1 Januari hingga 30 Juli 2026. Bencana hidrometeorologi masih mendominasi dengan banjir dan angin kencang menjadi ancaman terbesar, sementara Kabupaten Ogan Ilir tercatat sebagai wilayah dengan jumlah kejadian terbanyak.
Data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sumsel mencatat, dari total 101 kejadian bencana, banjir dan angin kencang masing-masing terjadi sebanyak 33 kali. Selain itu, terdapat 17 kejadian tanah longsor, 12 kebakaran permukiman, empat banjir bandang, dan dua kejadian angin puting beliung.
Kepala Pelaksana BPBD Sumsel, Iqbal Alisyahbana, mengatakan tingginya angka kejadian menunjukkan bahwa ancaman bencana hidrometeorologi masih menjadi tantangan utama di Sumatera Selatan.
“Data yang kami himpun menunjukkan bencana hidrometeorologi masih mendominasi di Sumatera Selatan. Karena itu, kesiapsiagaan pemerintah daerah dan masyarakat harus terus ditingkatkan,” ujar Iqbal, Sabtu (1/8/2026).
Dari sisi sebaran wilayah, Kabupaten Ogan Ilir menjadi daerah paling terdampak dengan 19 kejadian bencana. Posisi berikutnya ditempati Kabupaten OKU Selatan dengan 12 kejadian, disusul Kota Lubuklinggau dan Kabupaten Muara Enim yang masing-masing mencatat 10 kejadian, serta Kota Prabumulih dengan sembilan kejadian.
Sementara itu, Kabupaten OKU mengalami tujuh kejadian, Banyuasin enam kejadian, PALI lima kejadian, Musi Rawas dan Kota Pagar Alam masing-masing empat kejadian. Adapun Kota Palembang, Kabupaten Lahat, dan Kabupaten Empat Lawang masing-masing mencatat tiga kejadian bencana.
Tak hanya frekuensi yang tinggi, dampak bencana juga sangat besar. BPBD mencatat sebanyak 43.770 unit rumah terendam banjir. Selain itu, 125 rumah mengalami kerusakan berat, 66 rumah rusak sedang, dan 39 rumah rusak ringan.
Sektor pertanian juga ikut terpukul. Sedikitnya 4.910 hektare sawah dan 1.395 hektare lahan perkebunan mengalami kerusakan akibat bencana yang melanda berbagai daerah.
Di sektor kemanusiaan, sebanyak 43.747 kepala keluarga (KK) terdampak langsung, sementara 607 KK harus mengungsi ke lokasi yang lebih aman. BPBD juga mencatat adanya korban jiwa akibat sejumlah peristiwa bencana selama periode tersebut, meski rincian jumlah korban tidak dijelaskan.
Memasuki puncak musim kemarau, Iqbal mengingatkan pola ancaman bencana mulai bergeser dari banjir menuju kebakaran hutan dan lahan (karhutla), terutama di wilayah yang memiliki kawasan gambut.
“Seluruh pemerintah kabupaten dan kota diminta tetap siaga menghadapi potensi bencana yang dapat berubah mengikuti kondisi cuaca. BPBD terus memperkuat koordinasi lintas instansi, memperbarui informasi kebencanaan, serta mengedukasi masyarakat agar lebih siap menghadapi berbagai risiko bencana,” tegasnya. (THQ)

