Close Menu
relung.idrelung.id
  • Relung Community
  • Indeks
  • Regional
  • Hukum
  • Politik
  • Bola
  • Bisnis
  • Techno
  • Otomotif
  • Video
  • Liputan Khusus
  • Even
  • Advertorial
  • Karir

Subscribe to Updates

Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

What's Hot

Kembali ke Golkar, HBA Tegaskan Tak Bermusuhan dengan Joncik Muhammad

11/10/2026

Hotspot Sumsel Turun Jadi 1.959 Titik, Udara PALI Masuk Kategori Berbahaya

11/10/2026

Karhutla Sudah Bikin Malu Bangsa, Asap Indonesia Ganggu Negara Tetangga 

10/10/2026
Facebook X (Twitter) Instagram YouTube TikTok
relung.idrelung.id Sunday, 11 October 2026
Facebook X (Twitter) Instagram YouTube TikTok
Login
  • Indeks
  • Regional
  • Politik
  • Hukum
  • Liputan Khusus
  • Bisnis
  • Lifestyle
  • Bola
  • Techno
  • Otomotif
  • Advertorial
  • Video
relung.idrelung.id
Home»Indeks»Regional»Gempur Potensi Karhutla dari Udara, Sumsel Tuntaskan 12 Hari Operasi Semai Garam
Regional

Gempur Potensi Karhutla dari Udara, Sumsel Tuntaskan 12 Hari Operasi Semai Garam

ADMINBy ADMIN02/08/2026
Share Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Reddit Telegram Email
Share
Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email

RELUNG.ID – Pemerintah menuntaskan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) sebagai langkah agresif mencegah kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Sumatera Selatan. Selama 12 hari pelaksanaan, sebanyak 15,2 ton natrium klorida (NaCl) atau garam disemai ke awan potensial hujan untuk menjaga kelembapan lahan di tengah ancaman musim kemarau.

Operasi yang digelar Kementerian Kehutanan (Kemenhut) berlangsung pada 19–30 Juli 2026 menggunakan pesawat Cessna Caravan 208B PK-YNA. Langkah ini menjadi bagian dari strategi mitigasi dini pemerintah untuk menekan risiko karhutla, terutama di kawasan gambut yang rentan terbakar.

Baca juga :   Viral Perempuan Disebut Mantan Duta Pelajar Anti Narkoba Diduga Terlibat Pencurian, Polisi Belum Beri Keterangan

Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sumatera Selatan, Iqbal Alisyahbana, mengatakan selama operasi dilakukan 19 sorti penerbangan dengan total 15.200 kilogram atau 15,2 ton bahan semai NaCl yang disebarkan ke awan potensial hujan.

“Selama pelaksanaan OMC dilakukan sebanyak 19 sorti penerbangan dengan total 15.200 kilogram atau 15,2 ton bahan semai NaCl yang disebarkan ke awan-awan potensial hujan,” ujar Iqbal, Sabtu (1/8/2026).

Menurutnya, penyemaian awan difokuskan pada wilayah yang selama ini menjadi langganan karhutla, terutama Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI). Selain itu, operasi juga menyasar Banyuasin, Musi Banyuasin, Ogan Ilir, PALI hingga kawasan Palembang, menyesuaikan dengan pergerakan awan yang berpotensi menghasilkan hujan.

Baca juga :   Sempat Terbakar, Operasional PDAM Tirta Raja OKU Tetap Berjalan

Iqbal menegaskan, Operasi Modifikasi Cuaca bukan bertujuan menciptakan hujan secara instan. Teknologi tersebut hanya mengoptimalkan awan yang telah terbentuk secara alami agar menghasilkan hujan lebih efektif.

“Tujuan utamanya adalah menjaga kelembapan lahan, terutama lahan gambut, sehingga tidak mudah mengering dan terbakar saat musim kemarau. Dengan kondisi lahan yang tetap basah, potensi munculnya hotspot juga dapat ditekan,” katanya.

Ia menambahkan, OMC menjadi salah satu bagian dari strategi terpadu penanggulangan karhutla di Sumsel. Selain penyemaian awan, pemerintah juga memperkuat patroli darat dan udara, pemantauan titik panas melalui satelit, menyiagakan helikopter water bombing, hingga mengedukasi masyarakat agar tidak membuka lahan dengan cara dibakar.

Baca juga :   Raffi Ahmad Jadi Duta Kehormatan BPJS Kesehatan, Ini Alasan di Baliknya

Efektivitas OMC, lanjut Iqbal, turut terlihat dari hujan yang mengguyur Kota Palembang pada 22 Juli lalu. Berdasarkan analisis Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), hujan tersebut merupakan hasil kombinasi kondisi atmosfer yang mendukung dengan pelaksanaan OMC.

Namun demikian, BMKG mengingatkan bahwa hujan yang terjadi belum cukup untuk mengubah karakter musim kemarau tahun ini.

Kepala Stasiun Klimatologi Kelas I Sumatera Selatan, Wandayantolis, menjelaskan hujan selama periode 19–30 Juli memang dipengaruhi pelaksanaan OMC sehingga mampu memutus rangkaian hari tanpa hujan (HTH) di sebagian besar wilayah. Saat ini mayoritas daerah di Sumsel mencatat HTH berkisar enam hingga 10 hari.

Baca juga :   Polisi Gadungan Tipu Dua Pelajar SMP di Kulon Progo, Motor dan Barang Berharga Raib


“Namun, secara klimatologis kondisi tersebut belum cukup untuk mengubah karakter musim kemarau tahun ini. Akumulasi curah hujan sepanjang Juli di sebagian besar wilayah Sumsel masih berada di bawah normal atau lebih rendah dibandingkan rata-rata klimatologis,” ujarnya.

BMKG juga mencatat masih ada sejumlah wilayah di Sumsel yang mengalami hari tanpa hujan lebih dari 40 hari. Kondisi itu menunjukkan tingkat kekeringan di beberapa daerah masih tergolong tinggi meski hujan sempat turun pada akhir Juli.

Wandayantolis mengatakan puncak musim kemarau di Sumatera Selatan diperkirakan terjadi pada Agustus hingga September, sedangkan musim kemarau baru akan berakhir pada pertengahan Oktober 2026.

Baca juga :   Transaksi Narkoba di Pondok, Dua Pemuda di Muratara Ditangkap

Ia juga mengungkapkan fenomena El Nino kini telah berada pada kategori kuat dan masih berpotensi meningkat menjadi sangat kuat. Meski demikian, berdasarkan analisis BMKG, kondisi kemarau tahun ini diperkirakan tidak akan sekering peristiwa ekstrem yang terjadi pada 1997 maupun 2015.

“Kemarau diperkirakan berlangsung hingga pertengahan Oktober. Hujan masih mungkin terjadi, tetapi intensitasnya relatif rendah sehingga belum cukup efektif untuk menghentikan kemunculan hotspot,” pungkasnya. (THQ)

Share. Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
Previous ArticleSumsel Dihantam 101 Bencana dalam 7 Bulan, Ogan Ilir Jadi Daerah Paling Terdampak
Next Article Empat Lawang Sabet Dua Gelar Juara di Ajang Bujang Gadis Sriwijaya 2026
ADMIN

Related Posts

Regional

Kembali ke Golkar, HBA Tegaskan Tak Bermusuhan dengan Joncik Muhammad

11/10/20260 Views
Regional

Hotspot Sumsel Turun Jadi 1.959 Titik, Udara PALI Masuk Kategori Berbahaya

11/10/20261 Views
Regional

Karhutla Sudah Bikin Malu Bangsa, Asap Indonesia Ganggu Negara Tetangga 

10/10/20268 Views
Add A Comment

Leave A Reply Cancel Reply

Demo
Top Posts

Olahraga Berbahaya! Ini Manfaat Parkour untuk Kesehatan Tubuh

09/10/202328,919 Views

Hukum dan Keutamaan Puasa Syawal

11/04/202428,791 Views

Daerah Kelimpungan Hadapi Pemangkasan TKD, Menkeu Purbaya Tegaskan Disiplin Fiskal Tak Bisa Dilanggar

08/10/202522,764 Views

Keajaiban Tersembunyi di Talang Sarang Bulan: Curup Ayek Bayau

21/07/20244,403 Views

Tabrak Ambulans Bawa Pasien, Kuasa Hukum RSUD Bayung Lencir Soroti Pemilik Truk Tangki

02/06/20251,359 Views
Stay In Touch
  • Facebook
  • YouTube
  • TikTok
  • WhatsApp
  • Twitter
  • Instagram

Subscribe to Updates

Get the latest tech news from FooBar about tech, design and biz.

Demo
Facebook X (Twitter) Instagram YouTube TikTok
  • Tentang Kami
  • Info Kontak
  • Info Kerjasama
  • Karir
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy & Policy
© 2026

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

Sign In or Register

Welcome Back!

Login to your account below.

Lost password?