RELUNG.ID- Sepasang suami istri asal Kayu Agung, Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), Sumatera Selatan, datang jauh-jauh ke Bandung, Jawa Barat, untuk menemui Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi. Mereka membawa serta putra mereka yang duduk di bangku kelas 10 SMK dan meminta agar sang anak dimasukkan ke barak militer guna menjalani pelatihan khusus.
Permintaan tersebut bukan tanpa alasan. Sang anak diketahui telah kecanduan narkoba jenis sabu, yang mulai dikonsumsinya sejak duduk di kelas 10 SMK akibat pergaulan dengan teman-temannya.
Perjalanan dari Palembang ke Bandung ditempuh keluarga tersebut dalam waktu sekitar 15 jam. Mereka hanya sesekali berhenti untuk mengisi bahan bakar kendaraan.
Dengan suara lirih, sang ayah berinisial BH menyampaikan permohonan kepada Dedi Mulyadi agar anaknya mendapat pembinaan di lingkungan militer.
Dalam pertemuan yang ditayangkan melalui kanal YouTube Kang Dedi Mulyadi Channel, Dedi langsung bertanya kepada sang anak mengenai kebiasaannya mengonsumsi narkoba.
“Kenapa kamu ini?” tanya Dedi.
Sang pelajar pun mengakui telah mengonsumsi sabu sejak kelas satu SMK. Uang untuk membeli barang haram tersebut ia dapatkan dari uang saku harian sebesar Rp25 ribu yang diberi orang tuanya. Bahkan, ia kerap berbohong kepada orang tuanya agar mendapatkan tambahan uang dengan alasan untuk tugas sekolah.
“Sekali pakai habis Rp100 ribu untuk 1,5 gram,” ungkapnya.
Saat ditanya tentang perasaannya setelah seminggu tidak menggunakan sabu, ia menjawab, “Lebih tenang.”
Meski begitu, ia mengaku masih sangat terpengaruh lingkungan pergaulannya. Dedi pun menawarkan untuk memasukkannya ke barak militer agar tidak kembali ke lingkungan lamanya. Tanpa ragu, sang anak menyetujuinya.
“Gak mau balik, mau tinggal di sini aja. Tak masukkan ke barak, setuju?” tanya Dedi.
“Setuju, saya ingin sembuh,” jawab pelajar tersebut.
Dedi Mulyadi kemudian meminta izin dari kedua orang tua sang anak, mengingat kebijakan pelatihan barak ini sempat mendapat kritik karena dianggap melanggar hak asasi manusia (HAM). Namun BH dan istrinya dengan tegas menyatakan setuju dan siap menandatangani surat pernyataan jika anak mereka kabur atau melakukan pelanggaran selama pelatihan.
“Kami datang dengan kesadaran penuh. Kami titipkan anak kami secara sukarela,” ujar BH.
Diketahui, sang ibu merupakan seorang guru sekolah dasar di Kayu Agung, sementara sang ayah bekerja sebagai pengantar emas dari toko ke toko. Ironisnya, selain memiliki anak yang terlibat narkoba, keluarga ini juga memiliki anak lain yang berprofesi sebagai tentara dan aparatur sipil negara (ASN).
“Kakak kamu malah tentara dan ASN, kamu kok malah narkoba? Gimana ini?” kata Dedi Mulyadi menyayangkan.
Dedi menyebutkan, apa yang ia lakukan merupakan bagian dari tanggung jawab moral dan tugas negara dalam melindungi generasi muda dari bahaya narkoba.
“Saya menjalankan tugas dari Presiden untuk menjaga anak-anak Indonesia dari korban narkoba,” tegasnya.
Program pelatihan karakter yang digagas Pemerintah Provinsi Jawa Barat ini bukanlah hal baru. Sebelumnya, sebanyak 273 pelajar dari berbagai daerah telah dipulangkan setelah menjalani pelatihan karakter selama dua pekan di Dodik Bela Negar, Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung Barat.
Program ini diperuntukkan bagi siswa dengan perilaku bermasalah, mulai dari tawuran, ketidakdisiplinan, hingga penyalahgunaan narkoba. Meski menuai banyak dukungan dari masyarakat, belum semua daerah berani meniru kebijakan tersebut.
Dedi Mulyadi menegaskan, pelaksanaan program ini tidak mengandung unsur paksaan. Semua peserta dikirim ke barak atas permintaan dan persetujuan orang tua secara sukarela melalui Dinas Pendidikan.[YKP]

