RELUNG.ID- Jagat media sosial dihebohkan oleh beredarnya sebuah video yang menampilkan Wakil Ketua Umum Angkatan Muda Pembaharuan Indonesia (AMPI) Partai Golkar, Arief Rosyid Hasan.
Dalam video tersebut, Arief menyampaikan pernyataan yang menuai kontroversi lantaran secara terbuka menyebut akan tetap membela Menteri Investasi sekaligus Ketua Umum Partai Golkar, Bahlil Lahadalia, meskipun berada dalam posisi salah.
Video itu pertama kali diunggah akun Instagram @ygga dan dengan cepat menyebar luas ke berbagai platform media sosial. Dalam potongan video tersebut, Arief awalnya memuji Bahlil sebagai sosok aktivis yang low profile, pekerja keras, serta tetap rendah hati meski telah menduduki jabatan strategis di pemerintahan.
Namun, pernyataan Arief menjadi sorotan tajam publik ketika ia menyinggung soal loyalitas politik. Ia menyebut bahwa selama memiliki latar belakang aktivis dan berada dalam “warna” yang sama, maka pembelaan tetap harus diberikan, terlepas dari benar atau salah.
“Selama darahnya masih aktivis, apalagi warnanya sama, jangankan benar atau salah pun harus kita bela,” ujar Arief dalam video tersebut.
Ucapan itu langsung memantik reaksi keras dari warganet. Banyak netizen menilai pernyataan tersebut mencerminkan fanatisme politik yang berlebihan dan tidak sejalan dengan prinsip etika serta akuntabilitas pejabat publik.
Sejumlah komentar di media sosial mempertanyakan logika pembelaan tanpa syarat tersebut. Warganet menilai loyalitas tidak seharusnya dijadikan alasan untuk menutupi kesalahan, terlebih jika menyangkut pejabat negara yang memiliki tanggung jawab kepada publik.
“Kalau salah ya salah, bukan malah dibela,” tulis salah satu pengguna media sosial.
Tak sedikit pula yang menilai pernyataan Arief justru berpotensi merugikan citra Partai Golkar. Pasalnya, pernyataan tersebut dinilai menimbulkan kesan bahwa kebenaran dan integritas bisa dikompromikan demi solidaritas politik.
Hingga kini, video tersebut masih ramai diperbincangkan dan terus dibagikan ulang oleh berbagai akun. Publik pun menunggu klarifikasi atau penjelasan resmi dari Arief Rosyid Hasan terkait pernyataannya. Namun, sampai berita ini diturunkan, belum ada tanggapan resmi dari yang bersangkutan.
Kontroversi ini kembali memunculkan diskusi publik mengenai pentingnya integritas, etika, dan tanggung jawab moral dalam dunia politik, terutama bagi para tokoh muda partai yang kerap dianggap sebagai representasi masa depan demokrasi Indonesia.[YKP]

